1. Cara I’tidal
a. Kemudian mengangkat kepala, bangkit dari ruku’ sembari mengangkat kedua tangan (boleh sejajar telinga, boleh sejajar dengan bahu).
b. Ketika bangkit sambil mengucapkan “sami’allahu liman hamidah”.
CATATAN: Berlaku bagi imam, orang yang shalat sendirian (satu pendapat), dan juga imam dan makmum (pendapat lain).
وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا ، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ . فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
“Jika imam bangkit dari ruku’, maka bangkitlah. Jika ia mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah (artinya: Allah mendengar pujian dari orang yang memuji-Nya) ‘, ucapkanlah ‘robbana wa lakal hamdu (artinya: Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji)’.” (HR. Bukhari, Muslim dari Anas bin Malik)
Menurut Atha’, Imam Asy-Syafi’i, Imam An-Nawawi, Ash-Shan’ani beserta pengikutnya berpendapat bahwa Imam dan Makmum sama-sama dianjurkan untuk membaca dzikir seperti disebutkan dalam hadits di atas dengan berdalilkan hadits Bukhari dalil Malik bin Huwairits.
c. Wajib tuma’ninah (berdiri sejenak) dengan meluruskan tulang belakang dan yang lainnya.
2. Dzikir I’tidal
a. Allahumma robbanaa lakal hamdu. (HR. Muslim no. 404)
b. Allahumma robbanaa wa lakal hamdu. (HR. Bukhari no. 795)
c. Robbanaa lakal hamdu. (HR. Bukhari no. 722 dan Muslim no. 477)
d. Robbanaa wa lakal hamdu. (HR. Bukhari no. 689 dan Muslim no. 411)
e. Allahumma robbanaa lakal hamdu mil-assamawaati wa mil-al ardhi, wa mil-a maa syi’ta min syai-in ba’du, ahlats tsanaa-i wal majdi, laa maani’a limaa a’thoita, wa laa mu’thiya lima mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu. (HR. Muslim no. 471)
f. Robbana walakal hamdu, hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih. (HR. Bukhari no. 799)
CATATAN: Dzikir-dzikir di atas hendaknya diganti-ganti agar supaya:
• Menjaga sunnah.
• Memancing khusyu’.
• Mengamalkan semua amalan Nabi.
3. Keutamaan Membaca Dzikir I’tidal
إِذَا قَالَ الإِمَامُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ . فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ . فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Jika imam mengucapkan sami’allahu liman hamidah, maka hendaklah kalian mengucapkan ‘robbana wa lakal hamdu’. Karena siapa saja yang ucapannya tadi berbarengan dengan ucapan malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan dihapus.” (HR. Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah)
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ
“Robbana walakal hamdu, hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih (artinya: wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh dengan berkah).” Disebutkan dalam hadits Rifa’ah bin Rofi’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bagi orang yang mengucapkan semacam itu,
رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا ، أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ
“Aku melihat ada 30-an malaikat, berlomba-lomba siapakah di antara mereka yang lebih duluan mencatat amalannya.” (HR. Bukhari no. 799)
4. Ancaman Bagi Orang yang I’tidal dengan Benar
عَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ الْحَنَفِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى صَلَاةِ عَبْدٍ لَا يُقِيمُ فِيهَا صُلْبَهُ بَيْنَ رُكُوعِهَا وَسُجُودِهَا
Dari Thalq bin ‘Ali Al Hanafi, berkata; Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Allah AzzaWaJalla tidak melihat shalat seorang hamba yang tidak menegakkan tulang punggungnya pada saat ruku’ dan sujudnya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani)
CATATAN: Hadits ini dijadikan dalil oleh Imam Ibnu Hazm dan Syaikh Al-Albani tentang batalnya shalat orang yang tidak tuma’ninah dalam berdiri i’tidal.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















