- Menambahkan sebagian kalimat baru dan doa-doa bid’ah sebelum adzan dan sesudahnya
Sebagian muadzdzin menciptakan sendiri kata-kata tambahan yang mereka ucapkan sebelum adzan dan sesudahnya. Padahal, hal ini sama sekali tidak ada ajarannya dalam sunnah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun selain lafazh adzan berupa tasbih, pujian dan mengeraskan suara dalam berdoa dan semisalnya dalam adzan maka ini tidak disunnahkan menurut para imam. Bahkan sebagian sahabat Malik, Syafi’i dan Ahmad menyebutkan bahwa ini termasuk bid’ah yang dibenci.” (Al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyyah [5/323]) - Melagukan dan tarik suara dalam adzan
Diantara bid’ah tercela yang sudah umum terjadi dalam adzan adalah dengan melagukan dan menyenandungkannya. Hal ini akan menyebabkan terjadinya perubahan huruf, harakat, huruf-huruf yang disukun, pengurangan dan penambahan karena ingin menjaga irama dan intonasi lagu. Perbuatan ini tidak diperbolehkan dalam adzan sebagaimana tidak diperbolehkan pula dalam membaca al-Qur’am. Juga tidak diperbolehkan mendengarkannya karena ada keserupaan dengan perbuatan orang-orang fasik ketika dalam kefasikannya. Hal ini juga menyimpang dari syariat adzan yang dikenal. (Ad-Din al-Khalish Syaikh Mahmud Khithab as-Subki [2/92]) - Adzan sulthani atau adzan jauqi
Maksud dari adzan Shulthani atau Jauqi yaitu berdirinya beberapa muadzdzin lalu mengumandangkan adzan dalam satu intonasi suara (koor).
Syaikh Ali Mahfuzh berkata, “Diantara perkara bid’ah ialah adzan berjamaah yang dikenal dengan adzan sulthani atau adzan jauqi. Tidak diperselisihkan bahwa hal itu tercela dan dibenci. Sebab di dalamnya ada unsur melagukan dan tarik suara, serta menyimpangkan kalimat-kalimat adzan dari kaidaha bahasa Arab dengan tata caranya secara syar’i dengan bentuk yang buruk. Dengan sebab itu pula membuat kulit yang hidup jadi merinding serta jiwa yang suci merasa sakit. Orang yang pertama kali mengadakan perkara ini baru ini adalah Hisyam bin Abdul Malik.” (Al-Ibda’ fie Madhariril Ibtida’ oleh Syaikh Ali Mahfuzh [hal. 176])
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















