1. Bahwa musafir terus mengqashar shalat, selama ia tidak berniat untuk bermukim seterusnya. Ini adalah madzhab al-Hasan, Qatadah, Ishaq, dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah. (Al-Majmu’ [IV/365], Majmu’ al-Fatawa [XXIV/18], dan al-Muhalla [V/23])Mereka berargumen dengan dalil-dalil sebagai berikut:
a. Hadits Ibnu Abbas
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةَ عَشَرَ يَقْصُرُ فَنَحْنُ إِذَا سَافَرْنَا تِسْعَةَ عَشَرَ قَصَرْنَا وَإِنْ زِدْنَا أَتْمَمْنَا
Dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menetap (dalam bepergian) selama sembilan belas hari dengan mengqashar (meringkas) shalat. Maka kami bila bepergian selama sembilan belas hari mengqashar solat. Bila lebih dari itu, kami menyempurnakan shalat”. (HR. Bukhari)
b. Hadits Jabir
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتَبُوكَ عِشْرِينَ يَوْمًا يَقْصُرُ الصَّلَاةَ
Dari Jabir bin Abdullah dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bermukim di Tabuk selama dua puluh hari, dan selalu mengqashar shalat.” (HR. Ahmad [III/295], Abu Dawud [1236]. Dishahihkan oleh Al-Albani)
c. Hadits Imran bin Hushain
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ غَزَوْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَهِدْتُ مَعَهُ الْفَتْحَ فَأَقَامَ بِمَكَّةَ ثَمَانِي عَشْرَةَ لَيْلَةً لَا يُصَلِّي إِلَّا رَكْعَتَيْنِ وَيَقُولُ يَا أَهْلَ الْبَلَدِ صَلُّوا أَرْبَعًا فَإِنَّا قَوْمٌ سَفْرٌ
Dari ‘Imran bin Hushain dia berkata; “Aku berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku juga menyaksikan bersama beliau ketika pembebasan kota Makkah, beliau bermukim di Makkah selama delapan belas hari, dan tidaklah beliau mengerjakan shalat, kecuali hanya dua raka’at, lalu beliau bersabda: ‘wahai para penduduk (asli), shalatlah kalian empat raka’at, sebab kami ini adalah para musafir.” (HR. Ahmad, Abu Dawud. Dhaif)
d. Hadits Ibnu Umar
فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرَّجُلُ كُنْتُ بِأَذْرَبِيجَانَ لَا أَدْرِي قَالَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ أَوْ شَهْرَيْنِ فَرَأَيْتُهُمْ يُصَلُّونَهَا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ وَرَأَيْتُ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَصَرَ عَيْنِي يُصَلِّيهَا رَكْعَتَيْنِ
Maka Ibnu Umar berkata, “Wahai orang laki-laki, saya pernah berada di Azerbaijan dan saya tidak tahu pasti apakah empat atau dua bulan. Saya melihat mereka shalat dua raka’at dua raka’at, dan saya juga melihat Nabi Allah Shallallahu’alaihi wasallam dengan pandangan mataku sendiri, beliau shalat dua raka’at.” (HR. Al-Baihaqi [III/152], Ahmad [II/83, 154]. Sanadnya shahih)
e. Diriwayatkan dari Abu al-Minhal al-Anazi ia berkata, Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Aku bermukim di Madinah selama satu tahun karena tidak kuat untuk berjalan?’ beliau menjawab, “Shalatlah dua rakaat.” (HR. Ibnu Abi Syaibah [II/207]. Sanadnya shahih)
f. Diriwayatkan dari al-Hasan bahwa Anas bin Malik bermukim di Naisabur selama setahun atau dua tahun, beliau shalat dua rakaat kemudian salam. Kemudian beliau shalat sua rakaat dan tidak menjamak. (HR. Ibnu Abi Syaibah [5099], Ibnu al-Mundzir [1736]. Sanadnya dhaif)
g. Diriwayatkan dari al-Hasan juga bahwa Abdurrahman bin Samirah menghabiskan musim dingin di Kabul setahun atau dua tahun. Beliau tidak menjamak, tapi shalat dua rakaat. (HR. Ibnu Abi Syaibah [II/13]. Sanadnya dhaif)
h. Diriwayatkan dri Anas, ia berkata, “Sahabat-sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam bermukim di Roma Harmuz selama sembilan bulan dengan mengqashar shalat.”(HR. Al-Baihaqi [III/152]. Sanadnya dhaif)
2. Diriwayatkan dari Abu Wa’il, ia berkata, “Kami bersama Masyruq di Silsilah selama dua tahun, dan ia seorang pekerja di sana, maka ia shalat mengimani kami dua rakaat hingga kembali ke negerinya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah [II/208], Abdurrazzaq [4357]. Sanadnya shahih)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















