عَنْ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ
Dari Abu Bakrah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa apabila terdapat perkara perkara yang menyenangkan atau beliau dibei kabar gembira maka beliau bersujud untuk bersyukur kepada Allah” (HR. Abu Dawud)
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاتَّبَعْتُهُ حَتَّى دَخَلَ نَخْلًا فَسَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى خِفْتُ أَوْ خَشِيتُ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ قَدْ تَوَفَّاهُ أَوْ قَبَضَهُ قَالَ فَجِئْتُ أَنْظُرُ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ مَا لَكَ يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ قَالَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ لِي أَلَا أُبَشِّرُكَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ لَكَ مَنْ صَلَّى عَلَيْكَ صَلَّيْتُ عَلَيْهِ وَمَنْ سَلَّمَ عَلَيْكَ سَلَّمْتُ عَلَيْهِ
“Dari Abdurrahman bin Auf berkata; Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kemudian aku mengikuti beliau, ketika beliau masuk ke kebun kurma, beliau bersujud dengan memanjangkannya sehingga membuatku takut atau khawatir jika Allah mewafatkan atau mencabut ruhnya. Maka aku mendekati beliau dan memperhatikannya, tiba-tiba beliau mengangkat kepalanya, lalu bertanya: “ada apa denganmu wahai Abdurrahman?” saya pun menerangkan hal itu kepada beliau, dan beliau menjawab; “Jibril ‘Alaihiis salam berkata kepadaku: ‘Apakah kamu mau aku sampaikan kabar gembira kepadamu, sesungguhnya Allah ‘azza wajalla berfirman kepadamu: ‘Barangsiapa bershalawat kepadamu, niscaya Aku akan bershalawat kepadanya, dan barangsiapa yang mengucapkan salam kepadamu niscaya aku akan mengucapkan salam kepadanya.” (HR. Ahmad)
TATACARA SUJUD SYUKUR
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai tatacara sujud syukur:
1. Pendapat Pertama: Sujud Syukur ialah shalat dua rakaat yang sempurna dan bacaannya dengan menggunakan suara yang pelan. (Sebagian ulama mazhab Hanafi, sebagian ulama mazhab Maliki, dan beberapa ulama saja dari kalangan mazhab Syafi’i)
2. Pendapat Kedua: Sujud syukur tetap merupakan sujud sesuai dengan namanya. (Pendapat sebagian besar ulama)
Tatacara Sujud Syukur di Luar Shalat
- Ketika sujud syukur, tidak ada takbir mulai dari awal hingga akhir. Hal itu karena tidak adanya nash yang shahih yang menyebut-nyebut takbir dalam sujud.
- Tidak perlu mengangkat kedua tangan ketika sujud syukur karena memang tidak ada riwayatnya, dan di dalam shalat itu tidak perlu mengangkat kedua tangan ketika sujud, apalagi di luar shalat.
- Tidak ada tasyahud dalam sujud syukur. Adapun pendapat yang menyatakan adanya tasyahud, maka itu adalah pendapat yang lemah.
- Sujud syukur dilakukan tanpa salam.
- Simpulan masalah tatacara sujud syukur ini: Sujud syukur hanya dilakukan satu kali tanpa takbir, tanpa mengankat kedua tangan ketika sujud, tanpa tasyahud, dan tanpa salam. (Pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Asy-Syaukani, Ash-Shan’ai, dan Abdurrahman As-Sa’di)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















