1.Wajib. (Hanafiyah, satu pendapat dari Malikiyah, Hanabilah, Zhahiriyah dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)
Hujjah mereka adalah: Pada sebagian hadits tentang disyariatkannya sujud sahwi Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengerjakannya karena sekadar ragu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam senantiasa sujud sahwi bila terjadi sebabnya.
2. Mustahab. (Satu pendapat dari Malikiyah, Syafi’iyah dan satu riwayat dari Hanabilah)
إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحْ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ
Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, dan tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan, dan ambilah yang pasti (yaitu yang sedikit). Kemudian sujudlah dua kali sebelum memberi salam. Jika ternyata dia shalat lima rakaat, maka sujudnya telah menggenapkan shalatnya. Dan jika, ternyata shalatnya memang empat rakaat maka kedua sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan’.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















