Perbuatan dan ucapan dalam shalat terbagi menjadi tiga bagian:Pertama, rukun, yaitu sesuatu yang tidak dapat ditinggalkan, baik karena faktor ketidaktahuan, ketidaksengajaan, maupun kelalaian. Kedua, kewajiban, yaitu sesuatu yang dapat membatalkan shalat jika dikerjakan secara sengaja, dan tidak membatalkannya jika dilakukan karena ketidaktahuan dan kelalaian, namun harus dibayar dengan melakukan sujud Sahwi. Ketiga, sunnah-sunnah shalat, yaitu apa yang tidak membatalkan shalat, baik dilakukan secara sengaja maupun karena lalai.
CATATAN: salah satu ta’rif (definisi) rukun, “Rukun berarti substansi sesuatu dan komponen yang darinya sesuatu itu tersusun, sekaligus merupkan salah satu bagian darinya, yang sesuatu itu tidak akan pernah ada melainkan dengannya.” (Hasyiyatur Raudhil Murbi, Ibnu Qasim [II/122])
1. Berdiri Jika Mampu
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
Dari ‘Imran bin Hushain radliallahu ‘anhu berkata: “Suatu kali aku menderita sakit wasir lalu aku tanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang cara shalat. Maka Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak sanggup lakukanlah dengan duduk dan bila tidak sanggup juga lakukanlah dengan berbaring pada salah satu sisi badan”. (HR. Bukhari)
2. Membaca Takbiratul Ihram (Allaahu Akbar)
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ
Apabila kamu mendirikan shalat, maka bertakbirlah. (HR. Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah)
مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ
Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkannya (dari segala ucapan dan gerakan di laur shalat) adalah takbir, dan yang menghalalkannya kembali adalah salam. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dari Ali. Dishahihkan oleh Al-Albani)
3. Membaca Al-Fatihah Secara Tertib pada Setiap Rakaat
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Al Fatihah). (HR. Bukhari, Muslim dari Ubadah bin Shamit)
4. Ruku’
ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا
Kemudian ruku’lah hingga bertuma’ninah dalam keadaan ruku’. (HR. Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah)
5. Bangkit dari Ruku’ dan Berdiri dengan I’tidal (Tegak)
ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا
Kemudian angkatlah (kepalamu dari ruku’) hingga lurus berdiri. (HR. Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah)
6. Sujud di Atas Tujuh Anggota Badan
أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ
Aku diperintahkan untuk melaksanakan sujud dengan tujuh tulang (anggota sujud); kening -beliau lantas memberi isyarat dengan tangannya menunjuk hidung- kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung jari dari kedua kaki. (HR. Bukhari, Muslim dari Ibnu Abbas)
7. Bangkit dari Sujud
ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا
Kemudian angkatlah hingga bertuma’ninah dalam duduk. (HR. Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah)
8. Duduk di Antara Dua Sujud
حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا
Hingga bertuma’ninah dalam duduk. (HR. Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah)
9. Tuma’ninah dalam Mengerjakan Semua Rukun Shalat
حَتَّى تَطْمَئِنَّ
Hingga bertuma’ninah. (HR. Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah)
10. Tasyahud Akhir
…لَا تَقُولُوا السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلَامُ وَلَكِنْ قُولُوا التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ
Janganlah kalian mengucapkan: ‘ASSALAAMU ‘ALAALLAH (Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada Allah) ‘, karena sesungguhnya Allah, Dialah As-Salaam. Akan tetapi bacalah: ‘ATTAHIYYAATU LILLAHI… (HR. Bukhari, Muslim dari Abdullah bin Mas’ud)
11. Duduk untuk Tasyahud Akhir
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat. (HR. Bukhari dari Malik bin Huwairits)
12. Shalawat atas Nabi di Tasyahud Akhir
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِي مَجْلِسِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ فَقَالَ لَهُ بَشِيرُ بْنُ سَعْدٍ أَمَرَنَا اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ قَالَ فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تَمَنَّيْنَا أَنَّهُ لَمْ يَسْأَلْهُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ …
Dari Abu Mas’ud al-Anshari dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kami sedangkan kami berada dalam majlis Sa’d bin Ubadah, maka Basyir bin Sa’ad berkata kepadanya, ‘Allah memerintahkan kami untuk mengucapkan shalawat atasmu wahai Rasulullah, lalu bagaimana cara bershalawat atasmu? ‘ Perawi berkata, “Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam hingga kami berangan-angan bahwa dia tidak menanyakannya kepada beliau. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Katakanlah, ‘ALLOOHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD… (HR. Muslim)
13. Tertib di Antara Rukun-rukun Shalat Itu
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا
‘Apabila kamu mendirikan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah sesuatu yang mudah dari al-Qur’an, kemudian ruku’lah hingga bertuma’ninah dalam keadaan ruku’. Kemudian angkatlah (kepalamu dari ruku’) hingga lurus berdiri, kemudian sujudlah hingga bertuma’ninah dalam keadaan sujud, kemudian angkatlah hingga bertuma’ninah dalam duduk, kemudian lakukan hal tersebut dalam shalatmu semuanya’.” (HR. Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah)
14. Mengucapkan Dua Salam
مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ
Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkannya (dari segala ucapan dan gerakan di laur shalat) adalah takbir, dan yang menghalalkannya kembali adalah salam. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dari Ali)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















