مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا
“Terus-menerus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Shubuh sampai beliau meninggalkan dunia.”
Dikeluarkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf 3/110 no. 4964, Ahmad 3/162, Ath-Thahawy dalam Syarh Ma’ani Al Atsar 1/244, Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadits Wa Mansukhih no. 220, Al-Hakim dalam Al-Arba’in sebagaimana dalam Nashbur Rayah 2/132, Al-Baihaqy 2/201 dan dalam Ash-Shugra ` 1/273, Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 3/123-124 no. 639, Ad-Daraquthny dalam Sunan -nya 2/39, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 6/129-130 no. 2127, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 689-690 dan Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah no. 753, dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Mudhih Auwan Al-Jama’ Wa At-Tafriq 2/255 dan Al-Qunut sebagaimana dalam At-Tahqiq 1/463.
Semuanya dari jalan Abu Ja’far Ar-Razy, dari Ar-Rabi’ bin Anas, dari Anas bin Malik.
KOMENTAR PARA ULAMA:
A. Yang Menshahihkan:
1. Muhammad bin ‘Ali Al-Balkhy (Khulashatul Badrul Munir 1/127)
2. Al-Hakim (Khulashatul Badrul Munir 1/127)
3. Imam Al-Baihaqy (Khulashatul Badrul Munir 1/127)\
B. Yang Mendha’ifkan:
1. Imam Ibnu Turkumany (Al-Jauhar An-Naqy): Karena ada Abu Ja’far Isa bin Mahan Ar-Razy, dia Mutakallamun fihi (dikertikik)
2. Ibnu Hambal: Laisa bil qawy (bukan orang kuat)
3. An-Nasa`i: Laisa bil qawy (bukan orang yang kuat)
4. Abu Zur’ah: Yahimu katsiran (Banyak salahnya)
5. Al-Fallas: Sayyi`ul hifzh (Jelek hafalannya)
6. Ibnu Hibban: Yaitu Sering menbawa rawi-rawi yang mungkar
7. Ibnu Taimiyah: Abu Ja’far Ar-Razy memiliki hadits-hadits yang mungkar (Zadul Ma’ad Jilid I)
8. Ibnu Qayyim: Abu Ja’far Ar-Razy memiliki hadits-hadits yang mungkar (Zadul Ma’ad Jilid I)
9. Ibnu Hajar: Taqribut Tahdzib yaitu Shaduqun sayyi`ul hifzh (jujur tapi jelek hafalannya)
KESIMPULAN HADITS PERTAMA INI: Lemah bahkan mungkar
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ فٍي الْفَجْرِ
“Sesungguhnya Nabi shallahu ‘alahi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Subuh.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/104 no. 7003 (cet. Darut Taj) dan disebutkan pula oleh Imam Al Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 6/129.
KOMENTAR PARA ULAMA: Hadits di atas mengalami kelemahan pada sanadnya dan terdapat syawahid (penguat) pada hadits ketiga tetapi juga tidak bisa mengangkat derajatnya menjadi hasan, semua jalannya mengalami cacat perawi-perawinya matrukul hadits (baca: Tahdzibut Tahdzib).
قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمْرَ وَعُثْمَانَ وَأَحْسِبُهُ وَرَابِعٌ حَتَّى فَارَقْتُهُمْ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, dan saya (perawi) menyangka “dan keempat” sampai saya berpisah dengan mereka”.
Dikeluarkan oleh Ath-Thahawy dalam Syarh Ma’ani Al-Atsar 1/243, Ad-Daraquthny 2/40, Al-Baihaqy 2/202, Al-Khatib dalam Al-Qunut dan dari jalan Al-Khatib, Ibnul Jauzy meriwayatkannya dalam At-Tahqiq no. 693, dan Adz-Dzahaby dalam Tadzkirah Al-Huffazh 2/494.
Hadits di atas diriwayatkan dari Al-Hasan oleh dua rawi, komentar ulama mengenai dua rawi tersebut:
1. Amru bin Ubaid (salah seorang perawi dari hadits di atas):
a. Dia adalah gembong kelompok sesat Mu’tazilah dan, dalam periwayatan hadits.
b. Dianggap sebagai rawi yang matrukul hadits ‘ ditinggalkan haditsnya’.
2. Sedangkan Isma’il bin Muslim Al Makky: Dia dianggap matrukul hadits oleh banyak imam (baca Tahdzibut Tahdzib).
صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقْتُهُ
“Saya shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam maka beliau terus-menerus qunut pada shalat Subuh sampai saya berpisah dengan beliau.”
Catatan:
Berkata Al-Hasan bin Sufyan dalam Musnad -nya, “Menceritakan kepada kami Ja’far bin Mihran, (ia berkata) menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits bin Sa’id, (ia berkata) menceritakan kepada kami Auf, dari Al-Hasan, dari Anas
KOMENTAR PARA ULAMA: Imam adz-Dzahabi (Mizanul I’tidal 1/418): Terdapat kekeliruan dari Ja’far bin Mihram karena Abdul Warits tidak meriwayatkan dari Auf melainkan Amru bin Ubaid (sedangkan dia rawi yang matrukul hadits menurut penilaian oleh banyak imam).
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















