Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا (56) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا (57)
Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan)[856] selain Allah, Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya.” orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka[857] siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS. Al-Isra[17]: 56-57)
Faidah-faidah Ayat-ayat di Atas:
- Orang mukmin hanya berharap dan takut hanya kepada Allah semata dan menganggap bahwa hak seorang kiayi hanya mendoakannya agar bersabar serta menaruh belas kasih kepadanya.
- Orang yang ditimpa musibah atau ketakutan kemudian beristighatsah (meminta bantuan) pada saat kritis kepada seorang kiayi agar ia menenangkan hatinya, maka perbuatan tersebut termasuk kategori syirik karena hanya Allah-lah yang berkuasa melimpahkan rahmat dan menghindarkan bahaya yang menimpa seseorang.
- Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerangkan bahwa orang –orang yang diseru atau dimintai bantuan, seperti malaikat, para nabi, dan lain-lainnya sama sekali tidak memiliki kekuasaan untuk menghilangkan atau memindahkan bahaya.
- Perkataan, “Aku meminta bantuan kepada seorang kiayi agar ia memberi syafaat kepadaku” adalah perkataan yang mirip dengan permohonan orang nasrani yang ditujukan kepasa Maryam, orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka.
- Para sahabat tidak pernah beristighatsah (memohon pertolongan) kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai orang yang memiliki kedudukan paling mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala baik ketika beliau masih hidup maupun setelah wafat.
- Ketika seseorang ditimpa ketakutan dan kekhawatiran maka seorang mukmin akan senantiasa berdzikir, berdoa dan membaca shalawat sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam begitu juga yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ketika beliau dilempar ke dalam api.
- Seseorang yang merasa kebutuhannya telah terpenuhi dan lancar dengan melakukan tindakan seperti itu (istighatsah kepada seorang Kiayi), maka dia tak ubahnya seperti penyembah bintang dan berhala yang melakukan perbuatan syirik karena mereka menyakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan seorang kiayi.
Dikutip dari:
Kitab Istighatsah dalam Timbanga Syariat Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















