Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (110)…
… Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi[18]: 110)
Faidah-faidah Ayat di Atas:
- Maksud judul ini yaitu: Penjelasan tentang ancaman terhadap perbuatan riya’ dan bahwasanya riya’ adalah syirik kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
- Hakikat riya’ diambil dari pandangan mata, yaitu ia mengamalkan ibadah agar dilihat orang lain, sehingga mereka memujinya atas amalannya tersebut.
- Riya memiliki dua tingkatan:
a. Riya’ orang munafiq, dengan cara menampakkan keislaman, dan menyembunyikan kekufuran, agar orang lain menduganya seorang mukmin. Riya’ ini meruntuhkan tauhid hingga dasar, dan merupakan kufur akbar kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
b. Seorang muslim berbuat riya’ dengan amalannya, atau dengan sebagian amalannya, maka ini termasuk syirik khofi (tersembunyi), dan kesyirikan ini menafikan kesempurnaan tauhid. - Ayat di atas merupakan larangan dari perbuatan syirik. Dan larangan di sini bersifat umum, sehingga mencakup seluruh jenis syirik, termasuk syirik riya’.
- Oleh karena itu ulamasalaf menggunakan ayat ini sebagai dalil dalam permasalahan riya’, sebagaimana dilakukan oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahab. Dan firman Allah أَحَدًا bermakna umum, sehingga mencakup seluruh makhluk, baik dengan cara ingin dilihat, didengar, atau dengan cara lainnya.
Sumber:
Kitab An-Nahjus Sadiid fi Syarhi Kitaabit Tauhiid Karya Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Alu Syaikh
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















