CARA KAFUR KEPADA THAGHUT
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1)
Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, (QS. Al-Kafirun[109]: 1)
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ … (4)
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (QS. Al-Mumtahanah[60]: 4)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah[5]: 52)
Faidah-faidah Ayat di Atas:
- Dengan mengkafirkan mereka dan jangan ragu tentang kekafirannya.
- Ayat di atas menunjukkan, betapa pentingnya menampakkan permusuhan dan berlepas diri dari mereka dengan nyata tanpa sedikitpun ada kesamaran. Karena tidak cukup kita menyembunyikna kebencian kepada mereka dalam hati kemudian dalam kenyataan lahiriah kita berdamai dan berkasih sayang dengan mereka.
- Allah Ta’ala mendahulukan penyebutan berlepas diri dari orang-orang musyrik dan kesyirikan mereka sebelum sembahan-sembahannya. Itu tidak lain, karena begitu pentingnya permasalahan yang pertama. Karena, berlepas diri dari orang musyrik dan kesyirikna berkonsekwensi berlepas diri dari sembahan-sembahannya, bukan sebaliknya.
- Tidak menyerahkan loyalitas, berkasih sayang, cenderung, atau membentuk aliansi (bersekutu) dengan mereka.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















