Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ (62)
Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). (QS. An-Naml[27]: 62)
Faidah-faidah Ayat di Atas:
- Al-Istighatsah adalah Thalabul Ghauts (meminta pertolongan dalam rangka menghilangkan kesulitan). (Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab)
- Ulama lain mengatakan terdapat perbedaan antara istighatsah, doa, dan isti’adzah.
Istighatsah: Meminta bantuan (pertolongan) untuk dihilangkan kesulitan.
Isti’adzah: Meminta bantuan (perlindungan) sebelum datangnya bencana.
Doa: Meminta bantuan (pertolongan) secara umum yang mencakup Istighatsa dan Isti’anah. - Doa adalah ibadah maka termasuk syirik jika berdoa selain kepada Allah. Istighatsah termasuk bagian dari doa maka jelas juga termasuk kesyirikan jika beristighatsah (meminta dihilangkan musibah atau bencana) selain kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
- Mayoritas orang yang melakukan istighatsah dalam perkara rezki, kesehatan, keselamatan, harta, makanan, tempat tinggal, hewan tunggangan. (Di sini banyak sumber kesyirikan)
- Yang bisa mengabulkan doa ketika seseorang dalam kesulitan (istighatsah) hanya Allah semata.
- Meminta pertolongan untuk dihilangkan bencana kepada Makhluk pada perkara yang tidak sanggup (dimampui) selain Allah adalah Syirik Akbar (Syirik Besar).
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















