Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (9) فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (10) فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ (11) وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ (12) وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ (13) تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ (14)
Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, Maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan Dia sudah pernah diberi ancaman). Maka Dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, Maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai belasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). (QS. Al-Qamar[54]: 9-14)
Faidah-faidah Ayat di Atas:
- Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kondisi orang-orang yang mendustakan Rasul-Nya (Nabi Nuh). Tanda kebesaran tidak berguna bagi kaum Nabi Nuh, ancamanpun tidak berpengaruh bahkan kaumnya ternyata semakin membangkang melampaui batas dan mencelah Nabi Nuh dengan memberi gelar “Orang Gila”. (Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di)
- Kesyirikan dan kesesatan kaum Nabi Nuh semakin menjadi-jadi padahal dakwah Nabi Nuh siang dan malam, rahasia dan terang-terangan tiada henti. (Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di)
- Pada saat Nabi Nuh telah mengeluarkan seluruh kemampuan dan ikhtiarnya bahkan perlakuan kaumnya semakain menyakitinya padahal Nabi Nuh tidak mempunyai kemampuan untuk melawan kaum mereka. Maka kekuatan yang sangat dahsyat yang dipakai oleh Nabi Nuh adalah berdoa. (Syaikh asy-Syanqity)
- Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa Nabi Nuh dengan membuka pintu langit dengan menurunkan air yang tercurah yang sangat lebat dan terus menerus (Tsunami terdahsyat di dunia -pen). (Syaikh Musthafa al-Maraghi)
- Akhirnya musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya pun tenggelam dan Nabi Nuh beserta orang yang beriman dan jenis hewan dibawanya tidak tenggelam. (Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin asy-Suyuti)
- Itulah buah kesabaran yang dipetik oleh orang yang lurus pada jalan yang benar dan adzab yang pantas bagi sang penentang dan penghalang dakwah. (Imam al-Qurthubi)
- Ini pasti akan berlaku secara sunnahtullah dari waktu ke waktu. Dipastikan bahwa pembawa dakwah tauhid akan berhadapan dengan musuhnya (pelaku kesyirikan) dan pasti perlawanan yang seru kebenaran dan kebathilan pun saling berhadapan. (Sayyid Quthb)
- Namun pada akhirnya kemenangan akan berada pada pihak dakwah tauhid atas sebuah kekuatan doa. Seberat apapun permasalahan cukuplah doa menjadi hiburan yang menyertai perjalanan kita. (Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi)
CATATAN:
Nuh menemui Rabb-nya yang telah memberikannya tugas penyampaian risalah, ia menyampaikan puncak persoalan dirinya dengan kaumnya. Nuh menyerahkan persoalannya kepada Allah setelah tidak lagi memiliki kemampuan tetapi justru di situlah kemenangannya. Nabi Nuh berkata, “Aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah aku.” Berarti, “Yaa Rabbi tolonglah aku, tolonglah dalam menyeru orang kepada-Mu, tolonglah dalam membela hak-Mu, tolonglah dalam menegakkan manhaj-Mu, tolonglah karena persoalan ini adalah persoalan-Mu, karena seruan itu adalah seruan-Mu, sungguh telah habis dayaku. (UNTUNG ADA DOA –Pen)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















