Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (20)
Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Ankabut[29]: 20)
Faidah-faidah Ayat di Atas:
- Apakah ayat tersebut tidak membuat kita berfikir??? (Diringkas dari Kemukjizatan Penciptaan Manusia, Ensiklopedia Mukjizat al-Qur’an dan Hadits jilid 2)
- Semoga kajian ini bermanfaat untuk menambah kualitas tauhid kita, khususnya Tauhit Rububiyah. Karena Tauhid Rububiyah akan terus bertambah dengan adanya ilmu yang bermanfaat dan salah satu ilmu yang bermanfaat untuk direnungkan adalah mempelajari siapa diri kita? Bagaimana kita diciptakan? Siapa yang menciptakan kita? Darimana kita berasal? Apa tujuan kita? Dan mau kemana kita pada akhirnya? (Diringkas dari Kemukjizatan Penciptaan Manusia, Ensiklopedia Mukjizat al-Qur’an dan Hadits jilid 2)
- Pengetahuan tentang penciptaan manusia merupakan salah satu ilmu yang paling efektif untuk menambah keyakinan terhadap hari kebangkitan dan hari perhitungan amal. Sebagaimana pada ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala mengungkapkan awal penciptaan, kalau yang awal saja mampu Dia mengadakan sesuatu yang belum ada tentu dengan mengembalikan Dia lebih mampu dan itu jauh lebih mudah menurut logika kita supaya kita tidak ragu dengan hari akhirat. (Diringkas dari Kemukjizatan Alam Semesta, Ensiklopedia Mukjizat al-Qur’an dan Hadits jilid 9)
- Ayat di atas jelas sekali berbicara tentan tauhid yaitu Tauhid Penciptaan yakni bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk yang bernama manusia. Dengan renungan itu supaya manusia mendapatkan petunjuk, arahan, nasehat agar mau berfikir dari mana dia berasal dan kemana ujung perjalanannya? (Aisar at-Tafaasir li al-Kalaami al-Aliyyi al-Kabiir — Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi)
- Dengan manusia berfikir yakni dengan menggunakan akalnya serta memaksimalkan panca indranya pasti mereka tidak bisa mengingkari adanya kekuasaan Allah dalam proses penciptaan. Dalam ciptaan Allah khususnya manusia tidak ada yang sulit bagi-Nya. Dia memulai kemudian mengulang seperti semula adalah mudah bagi Allah, maka kalau manusia membuka mata dan merenungkan pada akhirnya ia tidak dapat untuk menolak bersyahadat. (Tafsir Fi Zhilalil Qur’an — Sayyid Quthb)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















