Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا (36)
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS.Al-Ahzab[33]: 36)
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104)
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran[3]: 104)
Petunjuk-petunjuk dari Ayat-ayat di Atas:
- Dengan dakwah aqidah tabiat baik akan tumbuh, sebaliknya dengan dihilangkannya dakwah yang membina aqidah tabiat buruk akan berkembang.
- Masyarakat yang terbina oleh dakwah tauhid akan menjadikan nilai-nilai kebaikan sebagai standar, termasuk dalam mencari pemimpin maka akan terpilihlah pemimpin shaleh yang beraqidah tauhid kalau seluruh masyarakat mengembangkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupannya, berbagai potensi kebaikan akan menjadi aktual dan bersinergi.
- Jika pembinaan aqidah tauhid lemah maka pijakannya kepada al-Qur’an dan Sunnah lemah maka pelan tapi pasti masyarakat justru mengambil nilai-nilai yang disukai standarnya pasti hawa nafsunya bukan Islam yang menjadi sandarannya tetapi masing-masing mengeluarkan jurusnya berdasarkan hawa nafsunya (partainya, kelompoknya, organisasinya, mazhabnya, adatnya, kebiasaannya, pendapat-pendapat yang ngawur, dan sebagainya), maka orang-orang yang baik, yang beraqidah dengan benar, tegak diatas sunnah akan ditinggalkan, dengan sendirinya akan tersisih, dianggap aneh, ketinggalan zaman, kaku dalam pikiran, tidak demokratis, memecah belah persatuan, dan tuduhan-tuduhan lainnya. Akhirnya orang-orang yang berakhlak buruk yang lebih populer, diikuti, ditaati, didengar, pada akhirnya akan menjadi panutan, maka bermunculanlah orang yang jahat tapi kuat itulah yang akan berkuasa karena didukung oleh suara mayoritas, pertimbangannya adalah jumlah pengikut, pendukung, bukan lagi berdasarkan aqidah tauhid tapi hawa nafsu.
- Pada akhirnya orang-orang yang baik (beraqidah kuat dengan Islam) akan terus digrogoti dan dilemahkan sendiri oleh kelompok orang yang mengaku beraqidah tetapi tidak tercerahkan oleh aqidahnya sendiri muncullah aqidah sekuler, liberal, dan faham-faham yang menyimpang dalam masyarakat yang mengklaim dirinya sebagai pembawa perubahan padahal perusak, dalam posisi seperti ini sulit dibendung pengaruh demokrasi yang menyembah suara mayoritas tidak lagi kepada aqidah al-Quran dan as-Sunnah.
- Di zaman yang seperti sekarang dakwah tauhid mutlak dibutuhkan sebagai sebuah kebutuhan individu, rumah tangga dan sosial. Nilai-nilai tauhid yang harus disuburkan ditengah masyarakat untuk menggantikan standar manusia dalam menilai kebaikan hari ini berdasarkan hawa nafsunya (partainya, kelompoknya, organisasinya, mazhabnya, adatnya, kebiasaannya, pendapat-pendapat yang ngawur, dan sebagainya).
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















