Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ … (171)
Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu… (QS. An-Nisa[4]: 171)
Hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
‘Umar radliallahu ‘anhum berkata di atas mimbar, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku (mengkultuskan) sebagaimana orang Nashrani mengkultuskan ‘Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka itu katakanlah ‘abdullahu wa rasuuluh (hamba Allah dan utusan-Nya”). (HR. Bukhari dan Muslim)
Faidah-faidah Ayat di Atas:
- Orang-orang shaleh yang dimaksud mencakup para Nabi, Rasul, Wali, dan setiap orang yang beramal sheleh dan ikhlas kepada Allah.
- Tidak dilarang mencintai, menghormati, serta mencontoh amalan dan ilmu orang shaleh bahkan kalau orang shaleh dari Nabi/Rasul wajib meneladani perilaku mereka dan inilah sikap yang dituntun terhadap orang sheleh.
- Menyematkan sifat-sifat ketuhanan, anggapan bahwa mereka ada yang mengetahui rahasia Lauhul Mahfudz, lalu menggantungkan harapannya kepada mereka ini salah satu bentuk kultus terhadap mereka dan ini sikap yang terlarang bahkan keyakinan tersebut adalah syirik akbar kepada Allah.
- Mengkultuskan orang shaleh dengan keyakinan seperti pada nomor 3 di atas adalah syirik akbar (syirik paling besar) yakni mengeluarkan seseorang dari Islam, membatalkan seluruh pahalanya, mengekalkan dirinya dalam Neraka karena telah menyamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Al-Khaliq (pencipta) dengan makhluk-Nya.
- Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memiliki saingan dalam memberi syafaat (pertolongan), dalam memiliki kekuasaan atas alam, apalagi turut mengurus makhluk semua ini mutlak pada genggaman dan urusan Allah. Melimpahkan sebagian kepada orang shaleh tugas seperti ini merupakan pintu kesyirikan.
Sumber:
An-Nahjus Sadiid fi Syarhi Kitaabit Tauhid Karya Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Alu Syaikh
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















