Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا (171)
Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari Ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. cukuplah Allah menjadi Pemelihara. (QS. An-Nisa[4]: 171)
Faidah-faidah Ayat di Atas:
- Menempatkan orang yang disikapi secara berlebihan jauh di atas kedudukan yang semestinya, jika dhuluw itu berupa pujian, atau menempatkannya jauh di bawah ika itu merupakan celaan.
- Bahwasanya hal ini menjurus pada penyembahan orang yang disikapi secara berlebihan, seperti yang biasa dilakukan orang-orang yang ghuluw.
- Bahwasanya hal ini menghalangi pengagungan terhadapa Allah Ta’ala, karena jiwa itu akan menyibukkan diri dengan kebenaran atau kebathilan. Jika jiwa sibuk dengan makhluk yang diagungkannya, tentu ia akan bergantung kepadanya dan melupakan apa yang wajib terhadap hak-hak Allah.
- Bahwasanya orang yang disikapi secara berlebihan jika masih hidup, maka hal itu dapat mengecoh dirinya, karena dia akan merasa dirinya hebat dan ujub. Yang demikian ini dapat mencelakakan dirinya karena ghuluw itu berupa pujian. Sebaliknya, jika berupacelaan tentu akan mengakibatkan permusuhan dan kebencian bahkan permusuhan dan peperangan antara berbagai pihak.
Sumber:
Al-Qaulul Mufid fii Syarhi Kitabit Tauhid Karya Syaikh Shaleh Al-Utsaimin
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















