AKIBAT-AKIBAT BURUK TABARRUK YANG TERLARANG 2
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Barangsiapa berdusta terhadapku maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Memutar Balikkan Nash-nash (Dalil-dalil Syar’i)
a. Orang yang suka mencari berkah terlarang suka membawa pemahaman yang tidak semestinya karena memutar balikkan nash-nash yang syar’i.
b. Nash-nash yang diputar balikkan adalah nash-nash yang dapat dijadikan dalil untuk memperkuat perbuatan yang mereka maksudkan. Contoh: larangan Nabi untuk menjadikan makam beliau sebagai hari raya sebagaimana hadits:
وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا
Dan jangan kalian jadikan kuburanku sebagai ‘id (hari raya, yakni tempat yang selalu dikunjungi dan didatangi pada setiap waktu dan saat). (HR. Abu Dawud)
Mereka memutar dalil ini dengan mengatakan ini adalah perintah agar selalu mengunjungi makam beliau, beritiqad di sisisnya dan membiasakan untuk mendatanginya.
6. Menyia-nyiakan Sunnah
a. Kebiasaan mencari berkah yang terlarang akhirnya menyebabkan menyia-nyiakan sunnah.
b. Tidak dapat dipungkiri bahwa sunnah-sunnah itu akan mati jika bid’ah-bid’ah dihidupkan, begitupula ketika melakukan kebathilan pasti meninggalkan yang haq.
مَا أَحْدَثَ قَوْمٌ بِدْعَةً إِلَّا رُفِعَ مِثْلُهَا مِنْ السُّنَّةِ فَتَمَسُّكٌ بِسُنَّةٍ خَيْرٌ مِنْ إِحْدَاثِ بِدْعَةٍ
‘Tidaklah sebuah kaum melakukan sebuah bid’ah kecuali pasti akan ada sunnah yang hilang. Berpegang teguh dengan sunah adalah lebih baik daripada melakukan hal yang bid’ah. (HR. Ahmad)
Contoh perbuatan tersebut yaitu, sengaja mendatangi masjid-masjidbaru yang diadakan oleh orang pencari berkah yang tidak memiliki keutamaan lalu meninggalkan masjid seperti masjidil Haram, masjid Madinah, masjidil Aqsa yang dsunnahkan ditiga masjid tersebut karena ada sunnah yang sangat besar beribadah di dalamnya.
7. Menipu Orang-orang Bodoh dan Menyesatkan Generasi Penerus Ummat
a. Di anatara dampak buruk mencari berkah yang terlarang adalah terjadinya penipuan dan penyesatan terhadap ummat.
b. Fenomena yang banyak yaitu mendirikan bangunan di atas sebagian kuburan seperti kubah-kubah, tempat-tempat berdzikir, tempat ziarah yang tidak sedikit ummat terutama yang kurang ilmu menyangka hal itu sebagai kebaikan.
Sumber:
Kitab At-Tabarruk Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu Karya Dr. Nashir bin Abdurrahman bin Muhammad Al-Junda’i
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















