1. TAWAKKAL seseorang akan sempurna seiring denga sempurnyanya dua perkara yan memiliki kaitan sempurna dengan tauhid uluhiyah, yaitu:
a. Husnuzhzhan kepada Allah Azza Wa Jalla.
b. At-Tafwidh (Penyerahan).
2. Sepadan kadar husnuzhzhzan seorang hamba kepada Rabbnya dan sepadan dengan pengharapannya kepada-Nya, maka sebesar itu pula TAWAKKAL kepada-Nya.
3. Tidak masuk akal bahwa akan ada TAWAKKAL pada orang yang sangat buruk prasangkanya terhadap Rabbnya.
4. At-Tafwidh (Menyerahkan segala permasalahan kepada Allah Ta’ala) merupan ruh dan hakikat dari TAWAKKAL.
5. Maka, TAWAKKAL adalah bersandarnya hati kepada wakil sehingga hati seorang hamba menjadi thumakninah dan tenang dengan bersandar kepada wakil itu serta dengan menyerahkan semua urusannya kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
فَسَتَذْكُرُونَ مَا أَقُولُ لَكُمْ وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ (44)
Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya”. (QS. Ghafir[40]: 44)
Juga firmannya pada (QS. Ar-Ra’d[13]: 30 dan At-Taubah[9]: 129)
Semua ayat tersebut menggabungkan antara dua macam tauhid (Rububiyah dan Uluhiyah) dengan TAWAKKAL.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















