11. Cinta Allah tidak akan masuk ke dalam hati yang peniuh dengan cinta dunia, kecuali seperti masuknya unta ke lubang jarum. (Al-Fawa’id)
12. Bila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia mengarahkannya kepada diri-Nya, memilihnya untuk mencintai-Nya, dan mengkhususkan untuk beribadah kepada-Nya. Kemudian Allah menyibukkan cita-cita, lisan, ingatan dan anggota badannya dengan-Nya melalui pengabdian kepada-Nya. (Al-Fawa’id)
13. Hati diciptakan Allah di atas fitrah cinta kepada-Nya. Jika hati bergantung pada cinta-Nya, maka mudah baginya meninggalkan doosa dan tindakan terus-menerus dalam melakukan dosa. (Al-Fawa’id)
Terus menerus melakukan kesalahan kecil, pada hakikatnya adalah dosa besar, sebagaiman ditegaskan dalam hadits Rasulullah:
ارْحَمُوا تُرْحَمُوا وَاغْفِرُوا يَغْفِرْ اللَّهُ لَكُمْ وَيْلٌ لِأَقْمَاعِ الْقَوْلِ وَيْلٌ لِلْمُصِرِّينَ الَّذِينَ يُصِرُّونَ عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Kasihilah niscaya kalian akan dikasihi, maafkanlah niscaya Allah akan mengampuni kalian. Kecelakaanlah bagi Al Aqma’ Al Qaul (yakni mereka yang memiliki telinga seperti corong, mereka mendengarkan perkataan yang hak dari lubang yang satu kemudian keluar lewat lubang yang lain). Dan Kecelakaanlah bagi para penggambar atas apa yang mereka perbuat, padahal mereka mengetahuinya.” (HR. Ahmad dan Bukhari dalam Adab al-Mufrad dari Ibnu Umar dengan sanad yang shahih)
14. Jika Allah telah mencintai seorang hamba, ditumbuhkan-Nya rasa itu di hati sang hamba. (Madarijus Salikin)
15. Seorang pencinta itu akan selalu mencari jalan menuju Kekasihnya, bukan jalan yang justru menjauhkannya dari Sang Kekasih. (Miftahu Daris-Sa’adah)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















