1. Cinta Allah Ta’ala
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَالْمُتَجَالِسِينَ فِيَّ وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَالْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ
“Allah Subhanahuwata`ala berfirman, ‘Wajiblah cintaKu bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku, orang-orang yang saling berteman karena Aku, orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku dan orang-orang yang saling berkorban karena Aku’.” (HR. Ahmad dan Malik dari Mu’adz bin Jabal)
2. Kemuliaan dari Allah
مَا أَحَبَّ عَبْدٌ عَبْدًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَكْرَمَ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
“Tidaklah seorang hamba mencintai hamba lain karena Allah AzzaWajalla melainkan ia pasti memuliakan Rabbnya AzzaWaJalla.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah dengan sanad Jayyid)
3. Mendapat Naungan di Bawah Arsy Allah
إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ لِجَلَالِي الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي
“Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman pada Hari Kiamat; ‘Mana orang-orang yang menginginkan kemuliaan-Ku pada hari ini. Aku akan menaungi pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya.” (HR. Muslim, Ahmad, Malik, dan Ad-Darimi dari Abu Hurairah)
4. Hilangnya Rasa Sedih dan Takut
Dari Ibnu Umar, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di sisi Allah ada hamba-hamba yang bukan para Nabi dan bukan para syahid. Para Nabi dan syuhada merasa “iri” (ghibthah) dengan mereka, karena dekat dan mulianya mereka di sisi Allah.” Seorang Arab mendekati Rasul dan berkata, “Wahai Rasul Allah, tolong jelaskan dan beritahu siapa mereka?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Mereka adalah kaum yang paling kaya dari kabilah yang paling mulia, mereka saling bersedekah dan saling cintakarena Allah. Pada hari kiamat, Allah meletakkan mimbar-mimbar dari cahaya untuk mereka. Di saat orang lain ketakutan, mereka tidak merasa takut. Mereka adalah para wali Allah Azza Wa Jalla yang tidak ada rasa takut dan duka cita atas mereka.” (HR. Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)
5. Kesempurnaan Iman
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ
“Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan melarang (menahan) karena Allah, maka sempurnalah imannya. (HR. Abu Dawud dari Abu Umamah dengan sanad hasan)
6. Merasakan Kelezatan Iman
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَجِدَ طَعْمَ الْإِيمَانِ فَلْيُحِبَّ الْعَبْدَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Barangsiapa ingin mendapatkan nikmatnya keimanan hendaklah ia mencintai seorang hamba, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah ‘azza wajalla.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim dari Abu Hurairah. Dishahihkan dan disepakati oleh adz-Dzahabi)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















