Pembahasan Pengantar
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا (7)
Mereka menunaikan Nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. (QS. Al-Insan[76]: 7)
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56)
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat[51]: 56)
Faidah-faidah Ayat-ayat di Atas:
- Pada umumnya manusia melakukan dosa, baik kecil ataupun besar adalah karena kejahilan. Kejahilan yang kemudian bercampur syahwat dan syubhat akan menggiring seseorang kepada perbuatan-perbuatan yang jauh menyeleweng dari jalan Allah yang lurus.
- Salah satu bentuk penyelewengan yang banyak terjadi di kalangan kaum muslimin dalam masalah hak-hak Allah Azza Wa Jalla yang wajib ditunaikan oleh seorang hamba dalam beribadah kepada-Nya adalah nadzar.
- Nadzar termasuk perkara ibadah karena Allah memuji orang yang menunaikan nadzar tersebut dalam hal ketaatan kepada-Nya. “Manusia tidak akan dipuji dan tidak berhak untuk dimasukkan ke dalam surga oleh Allah kecuali dengan melakukan sesuatu yang termasuk ibadah. (Al-Qaulul Mufid, hal. 246 jilid 1)
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala di dalam kitab beliau Majmu’ Fatawa jilid 1 hal. 80 dan Iqtidla’ Ash-Shirath Al-Mustaqim hal. 451 menegaskan bahwa ibadah itu ditegakkan di atas syariat dan ittiba’, bukan berdasarkan hawa nafsu dan bid’ah.
- Imam Asy-Syathibi berkata dalam kitab beliau Al-I’tisham, “Jika akal tidak mengikuti syariat maka dia tidak akan tinggal kecuali dalam hawa dan syahwat. Padahal kita telah mngetahui bahwa mengikuti hawa adalah kesesatan yang nyata.” (Sallus Suyuf wal Asinnah, hal. 25)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















