Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (106) وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (107)
Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, Maka Sesungguhnya kamu kalau begitu Termasuk orang-orang yang zalim”. jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, Maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yunus[10]: 106-107)
- Istighatsah (permintaan pertolongan) dianggap sebagai syirkul akbar (syirik besar) bila yang meminta pertolongan kepada makhluk dalam urusan yang tidak kuasa dilakukan sedangkan yang berkuasa melakukannya hanyalah Allah.
- Bila meminta pertolongan dalam urusan yang kuasa dilakukan oleh makhluk maka itu dibolehkan sebagaimana kisah Nabi Musa:
Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, Maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang ber- kelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). (QS. Al-Qashash[28]: 15) - Larangan dalam ayat di atas yakni larangan berdoa kepada selain Allah, maka ayat ini mencakup berdoa kepada sesuatu bersama Allah atau hanya berdoa kepada selain Allah semata.
- Dari ayat di atas terdapat kalimat مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ (apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat), kata مَا di tas mencakup makhluk berakal seperti malaikat, rasul, nabi, wali dan mencakup pula makhluk yang tidak berakal seperti pohon, berhala, bebatuan, cincin, kertas-kertas dan sebagainya.
- Ayat ini ditujukan kepada nabi yang mendapatkan karunia dari Allah berupa kesempurnaan Tauhid, toh tetap mendapatkan larangan tegas lalu pikirkanlah orang-orang di bawah beliau yang tidak mendapatkan jaminan dari perbuatan syirik. Tentu lebih wajib lagi mewaspadai larangan tersebut.
Diringkas dari:
Syarah Kitabut Tauhid Karya Syaihk Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh pada Bab “Istigatsah”
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















