Hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian itu menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih dari mereka sebagai masjid, maka janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan itu sebagai masjid, karena sungguh aku melarang kalian dari hal itu. (HR. Muslim dari Jundub bin Abdullah)
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا لَعَنَ اللَّهُ قَوْمًا اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala, Allah melaknat suatu kaum yang menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah)
Faidah-faidah Hadits-hadit di Atas:
- Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberitakan bahwa salah satu tempat kemusyrikan sebelum datangnya syariat yang dibawa oleh beliau yaitu kuburan.
- Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang keras untuk menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.
- Salah satu hikmah dilarang dijadikan kuburan sebagai tempat beribadah karena nyata dan jelas sekali rusaknya aqidah seseorang kalu berdoa kepada penghuni kubur.
- Salah satu kesesatan yang menonjol juga di kuburan yaitu penghuninya dijadikan sebagai perantara (tawassul) antara dirinya dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
- Sahabat dan para tabi’in paham betul nasehat nabi tersebut di atas sehingga tak satupun di antara mereka yang medatangi kuburan nabi ketika mereka ditimpah musibah.
- Sahabat dan tabi’in sebagai orang yang paling dekat dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam sehebat apapun masalahnya tidak pernah mendatangi kuburang nabi sambil berdoa, “Yaa Rasulullah berdoalah kepada Allah untuk kami.” Sama sekali tidak pernah orang paling terdekat dengan Rasulullah melakukannya. Bandingkan orang-orang pada zaman sekarang sering sekali kuburan para wali, orang-orang shaleh menjadi tempat sandarannya ketika memerlukan pertolongan.
- Tidak jarang kaum muslimin pada saat seperti: sebelum pernikahan dan atau sesudahnya, sebelum bepergian atau sesudahnya, sebelum melakukan hajat besar atau sesudahnya bahkan sebelum pilkada dan sesudahnya sering kali kuburan menjadi tempat yang diidolakan dan di antara maksud mendatangi kuburan adalah “Istighatsah”. Naudzu billahi min dzalika.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















