Dalam Islam, menyikapi musibah dilakukan dengan dua prinsip utama: sabar saat diuji dan ridha menerima ketetapan-Nya. Umat Islam meyakini bahwa cobaan adalah tanda cinta Allah untuk menguji keimanan, menghapus dosa, dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Hal ini diungkapkan pendiri yang juga pembina Yayasan Tajdidul Iman, Kiai Sudirman S.Ag, saat menyikapi terjadinya kebakaran di Masjid Agung Tajdidul Iman yang terletak di dusun Mangempang, kecamatan Moncongloe, Maros, Senin (8/9/2026) siang.
Menurut Kiai Sudirman, sepanjang sejarah Islam, beberapa masjid besar pernah mengalami musibah, baik berupa kebakaran, banjir, gempa bumi, maupun peperangan. Hal ini menunjukkan bahwa musibah pada bangunan masjid bukanlah hal baru.
“Dalam sejarah yang terjadi di Masjidil Haram, beberapa kali pernah mengalami banjir besar. Bahkan pada tahun 1979, telah terjadi peristiwa pendudukan bersenjata yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan di area masjid. Meskipun demikian, kemuliaannya tetap tidak berkurang.” Ungkap Kiai Sudirman.
Begitupula pada Masjid Nabawi, sambung Kiai Sudirman, dalam sejarah pernah beberapa kali, masjid agung tersebut mengalami musibah kebakaran. “Salah satu kebakaran besar terjadi pada abad ke-7 Hijriah yang merusak sebagian bangunan masjid. Dan setelah itu dilakukan renovasi dan pembangunan kembali.” Ungkap Kiai.
Hal yang sama kata Kiai, terjadi pada Masjid Al-Aqsa yang pernah mengalami kebakaran besar pada tahun 1969 hingga merusak mimbar bersejarah peninggalan Nuruddin Zanki. Dan hingga kini masjid tersebut juga beberapa kali mengalami kerusakan akibat konflik dengan Zionis Israel.
“Kemuliaan masjid tidak diukur dari kondisi bangunannya, tetapi dari fungsi dan ibadah yang ditegakkan di dalamnya. Musibah dapat menimpa siapa saja dan apa saja di dunia, karena dunia adalah tempat ujian.” Jelas Kiai Sudirman.
Setelah musibah, sambung Kiai Sudirman, sering lahir kebangkitan dan persatuan umat, “Sebagaimana banyak masjid yang dibangun kembali dengan lebih baik. Allah SWT berfirman: “Yang mana saja yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26–27)”
“Karena itu, bangunan masjid bisa rusak, terbakar, atau roboh, tetapi syiar Allah dan ibadah kepada-Nya tetap akan terus hidup selama ada orang-orang yang memakmurkannya. Maka saya berharap kejadian kebakaran yang menimpa masjid Agung Tajdidul Iman pada Ahad kemarin, harus dipetik hikmah dibalik musibah tersebut” tandas kiai Sudirman.
Kiai berkeyakinan, hilangnya mesin air, dicurinya kotak amal masjid hingga musibah kebakaran yang terjadi merupakan cobaan sebagai tanda cinta-Nya untuk menguji keimanan kita. (*)




















