Setelah terhenti beberapa waktu lalu Yayasan Tajdidul Iman (YTI) yang didirikan dan dibina langsung KH Sudirman, S.Ag kembali melaksanakan Pengajian Perdana Ba’da Idul Adha 1446 H.
Kegiatan yang dirangkaikan dengan acara buka puasa itu, dilaksanakan Kamis 16 Dzulhijjah 1446 H atau 12 Juni 2025 M bertempat di markaz 1 jalan Rappokaling Timur Makassar, yang juga merupakan kediaman Kiai Sudirman.
Dalam kajiannya Kiai yang juga wakil ketua PD Muhammadiyah Makassar itu mengungkap ciri-ciri orang yang disayangi Allah SWT. Dia mencontohkan saat salah seorang donatur aktif YTI, H. Ibrahim bin H Ronda yang belum lama ini berpulang ke Rahmatullah telah mengorbankan segalanya untuk agama.
“Innamal a’malu bil khawatim” artinya “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung penutupannya”. Hadits ini menjelaskan bahwa kualitas dan hasil akhir dari sebuah perbuatan akan ditentukan oleh bagaimana perbuatan tersebut diakhiri.” Papar Kiai.
Hadits ini, sambung kiai menekankan pentingnya menjaga konsistensi dan terus menerus berbuat baik, serta berusaha untuk memperbaiki diri dan amalan di akhir hayat. “Amalan akhir inilah yang akan menjadi penentu dan menjadi dasar penilaian di akhirat.” Jelasnya.
Oleh karena itu, penting bagi setiap orang untuk selalu menjaga dan memperbaiki amalan, serta berdoa agar diberi akhir hayat yang baik.
“Tidak pernah ada yang menyangka dengan secepat itu dia (almarhum H. Ibrahim) pergi menghadap Allah SWT, namun apa yang beliau lakukan di akhir akhir masa hidupnya menjadi contoh yang baik bagi kita dan saya anggap beliau orang cerdas” kata Kiai.
Ciri-ciri kecintaan Allah SWT kepada hamba-Nya, adalah ketika si hamba selalu dimudahkan dalam beribadah dan beramal saleh. “Jadi kalau Allah SWT mencintai kita Pak pasti pada bagian akhir hidup kita, akan ditolong oleh Allah SWT dengan mudah beribadah dan beramal saleh”
Hal ini kata Kiai Sudirman bisa dilihat dari sosok pribadi almarhum Haji Ibrahim, “Saya melihat sejak 5 tahun beliau bergabung bersama kita (di YTI-red), beliau betul betul telah habiskan waktu, uang dan tenaganya untuk kerja agama. Meski kami sedih kehilangan beliau, tapi kami yakin dengan kecerdasannya dalam mengorbakan semuanya, saat ini almarhum telah menikmatinya Insya Allah. Maka inilah ciri ciri orang yang paling di cintai Allah SWT dan kita harus belajar darinya” kunci Kiai Sudirman. (tim)






















