FIQIH INTRAKSI DENGAN THAGHUT (BAGAIMANA MENYIKAPI THAGHUT???)
Bagian 2
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256)…
… Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Baqarah[2]: 256)
Faidah-faidah Ayat di Atas:
- Tidak boleh meremehkan persoalan kufur kepada thaghut dan menjelaskan bahwa ia adalah pokok dien yang sangat penting yang menjadi pondasi pokok-pokok dan cabang-cabang dien yang lain.
- Kufur kepada thaghut harus didahulukan daripada iaman kepada Allah. Andai kata iman kepada Allah didahulukan atas kufur kepada thaghut makaiman kepada Allah sama sekali tidak bermanfaat bagi pemiliknya kecuali setelah ia mengkufurithaghut dan melepaskan dari kesyirikan.
- Iman kepada Allah dan iman kepada thaghut tidak mungkin berkumpul dalam hati satu orang walaupun hanya sesaat, karena iman kepada salah satunya mengharuskan ketidakadaan yang lain
- Pemahaman ayat ini berkonsekwensi, bahwa barangsiapa beriman kepada Allah namun belum kufur kepada thaghut atau barangsiapa yang kufur kepada thaghut namun belum beriman kepada Allah maka ia belum berpegang teguh kepada al-urwah al-wutsqa dan belum bersyahadan laa ilaaha illallaah.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















