Dalam hal ini tidak ada nash yang tegas yang menjelaskannya. Sebagian ulama menjelaskan bahwa yang dibaca ialah seperti yang dibaca dalam sujud tilawah. Dan menurut pendapat sebagian ulama lainnya bahwa yang dibaca ialah kalimat “Subhana rabbiyal a’la” (Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi), seperti yang lazim dibaca dalam sujud-sujud lainnya.
Adapun pendapat yang diunggulkan dalam masalah ini seperti yang diungkapkan oleh Syaikh Shalih al-Utsaimin dan Syaik Shalih al-Lahidan, insya Allah yang dibaca cukup doa secara umum berupa kalimat Istighfar, kalimat Tasbih, kalimat Tahmid, kalimat Syukur, dan kalimat sanjungan kepada Allah lainnya yang sesuai.
Jadi, yang dibaca dalam sujud syukur ialah, “Subhana rabbiyal a’la” (Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi). Lalu membaca doa,
“Allahumma laka sajadtu, wabika amantu, wa alaika tawakkaltu. Sajada wajhi lillahi alladzi khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu bi haulihi wa quwwatihi, fatabaarakallahu ahsanul khaliqin” (Ya Allah, kepada Engkau aku beriman, dan kepada Engkau aku bertawakkal. Wajahku bersujud kepada Allahyang telah menciptakannya, yang membentuknya, dan yang membuka pendengaran serta pengelihatannya, dengan daya serta kekuatan-Nya. Maha Memberkahi Allah, Tuhan Pencipta yang terbaik)
Atau “Allahummaktub lii biha indaka ajran wa dha’anni biha wizran waj’alha li indaka dzahran wa taqabbalha minnii kama taqabbaltaha min abdika Daud” (Ya Allah, catatlah sujudku ini sebagai pahalaku di sisi-Mu, hilangkanlah dosa dariku, jadikanlah ini sebagai simpananku di sisi-Mu. Terimalah ini dariku sebagaimana Engkau menerimanya dari hamba-Mu Daud)
Atau bisa membaca doa-doa umum lainnya, terutama yang mengandung ungkapan rasa syukur sesuai dengan proporsinya.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















