Hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ
Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan (tidak pernah dilaksanakan di dalamnya shalat dan juga tidak pernah dikumandangkan ayat-ayat Al Quran, sehingga seperti kuburan), dan jangan kalian jadikan kuburanku sebagai ‘id (hari raya, yakni tempat yang selalu dikunjungi dan didatangi pada setiap waktu dan saat), bershalawatlah kepadaku, sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih)
Faidah-faidah Hadits di Atas:
- Menurut Syaikh Shaleh bin Abdul Aziz Alu Syaikh terdapat dua larangan dan satu perintah pada hadits di atas, dua larangan keras lalu satu perintah yakni perintah untuk bershalawat kepada beliau di mana pun kita berada (tidak mesti di depan kuburan Rasulullah) yang menunjukkan bahwa shalawat pada Rasulullah boleh saja diucapkan walau berada di tempat yang jauh tidak mesti di depan kuburannya.
- Menurut Syaikh Shaleh al-Utsaimin apa yang dilakukan oleh sebagian manusia di Madinah setiap kali usai shalat mereka menghampiri kuburan Nabi untuk mengucapkan salam kepada beliau karena alasannya untuk seperti mengunjungi beliau pada saat beliau masih hidup. Menurut Syaik Shaleh al-Utsaimin ini merupakan tindakan kebodohan.. amalan mendatangi Rasulullah setiap usai shalat ini termasuk larangan pada hadits di atas menjadikan kuburan Nabi sebagai tempat ‘id.
- Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah makna al-‘id di atas adalah sesuatu baik berupa waktu atau tempat yang kedatangannya sudah menjadi hal biasa sebagaimana yang dijadikan sebagian orang mendatangi kuburan dengan waktu tertentu dan kuburan tertentu pula.
- Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Nabi mengisyaratkan bahwa shalawat yang kalian ucapkan akan sampai kepadaku baik kalian berada di dekat kuburku atau jauh darinya sehingga tidak perlu menjadikan kuburnya sebagai ‘id (tempat perayaan). Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al-Allama Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh dalam kitab Fathul Majid (Syarah Kitabut Tauhid).
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















