Sering tanpa kita sadari ada hal-hal yang menyebabkan berpalingnya hati kepada sebab-sebab semata dan bisa mengurangi TAWAKKAL kepada Allah Ta’ala, antara lain:
3. Tathayyur
Kata طِيَرَةٌ atau طِيْرَةٌ adalah bentuk masdhar dari akar kata تَطَيَّرَ طِيْرَةٌ sebagaimana dalam kata-kata تَحَيَّرَ حِيْرَةٌ. Tidak ada masdhar dengan sedemikian ini selain dari dua kata kerja tersebut. Asalnya adalah dari kebiasaan memandang nasib melaklui burung-burung, kijang, atau lainnya, yang datang dari arah kanan atau kiri.
Sifatnya di zaman dahulu bahwa orang-orang Arab jika hendak melakukan sesuatu, mereka melempari sekawanan burung. Jika burung-burung itu terbang ke arah kanan, mereka merasa optimis sehingga mereka meneruskan mengerjakan apa-apa demi hajat mereka. Namun, jika burung-burung itu terbang ke arah kiri, mereka pesimis karenanya sehingga mereka berhenti berbuat demi hajat mereka.
A. Sikap Islam terhadap Tathayyur
1. Tathayyur adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah.
2. Tathayyur termasuk hal-hal haram bernuansa syirik.
3. Tidak ada hubungan antara benda-benda yang dilakukan tathayyur dengannya dan adanya manfaat atau penolakan bahaya.
4. Tidak boleh menoleh kepada kehendak bertatahayyur yang timbul di dalam hati.
5. Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak melakukan tathayyur.
6. Nabi shallallahu alaihi wa sallam memuji orang yang meninggalkan tathayyur.
7. Para salaf sangat waspada terhadap tathayyur.
8. Orang barakal sehat, berperasaan lurus, sekalipun dari kalangan Jahiliyah menjauhi tathayyur.
Kaffarah Dosa bagi Orang yang Mendapatkan di Dalam Dirinya Tathayyur sekalipun sangat kecil.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ قَالَ أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
Dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa tidak melanjutkan aktifitas kebutuhannyanya karena thaiyarah (tahayul, beranggapan sial karena melihat burung atau yang lainnya) maka sungguh ia telah berbuat syirik.” Para sahabat bertanya; “Lalu apakah yang dapat menghapuskannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “hendaklah ia berdo’a; ALLAHUMMA LAA KHAIRO ILLA KHAIRUKA WALAA THOIRO ILLA THOIRUKA WALAA ILAAHA GHOIRUKA (Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang datang dari-Mu, dan tidak ada nasib baik kecuali nasib baik yang datang dari-Mu, dan tidak ada Ilah selain-Mu.” (HR. Ahmad, Ibnu As-Sunni, Ath-Thabrani, dan Ibnu Luhai’ah)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















