Para ulama berbeda pendapat mengenai kapan makmum melakukan takbiratul ihram?
1. Malik berpendapat bahwa hendaknya makmum mulai takbiratul ihram setelah selesai membaca takbiratul ihram. Dia berkata, “Apabila ia takbir saat imam melakukannya, maka itu dianggap sah.” Namun ada juga yang mengatakan bahwa itu tidak sah. Adapun apabila makmum melakukan takbir sebelum imam, maka hal itu tidak sah.
2. Abu Hanifah dan para ahli fikih lainnya berpendapat hendaknya makmum melakukan takbir bersamaan dengan imam, namun apabila ia selesai sebelum imama menyelesaikannya, maka hal itu dianggap tidak sah.
3. Syafi’i dalam hal ini memiliki dua pendapat. Yang pertama seperti pendapat Imam malik dan inilah yang masyhur. Kedua, apabila makmum melakukan takbir sebelum imam, maka shalatnya dianggap sah.
Sebab perbedaan pendapat, adanya dua hadits yang tampak saling berlawanan.
Pertama: Sabda Nabishallallahu alaihi wa sallam
فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا
Jika imam bertakbir, maka bertakbirlah. (HR. Bukhari, Muslim, dan selainnya)
Kedua: Diriwayatkan bahwa beliau shallallahu alaihi wa sallam takbir dalam satu shalat,
اسْتَفْتَحَ الصَّلَاةَ فَكَبَّرَ ثُمَّ أَوْمَأَ إِلَيْهِمْ أَنْ مَكَانَكُمْ ثُمَّ دَخَلَ فَخَرَجَ وَرَأْسُهُ يَقْطُرُ فَصَلَّى بِهِمْ فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنِّي كُنْتُ جُنُبًا
Beliau lalu bertakbir dan memberi isyarat kepada orang-orang agar tetap di tempat. Beliau segera masuk (rumah) kemudian keluar dengan kepala yang masih meneteskan air. Lalu beliau shalat bersama mereka. Seusai mengerjakan shalat, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah manusia biasa, dan sesungguhnya aku tadi sedang junub.” (HR. Ahmad dari Abu Bakrah)
قَالَ أَبُو دَاوُد وَرَوَاهُ أَيُّوبُ وَابْنُ عَوْنٍ وَهِشَامٌ عَنْ مُحَمَّدٍ مُرْسَلًا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَكَبَّرَ ثُمَّ أَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى الْقَوْمِ أَنْ اجْلِسُوا فَذَهَبَ فَاغْتَسَلَ
Abu Dawud berkata; dan diriwayatkan oleh Ayyub dan Ibnu Aun dan Hisyam dari Muhammad secara mursal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia menyebutkan; Beliau bertakbir, kemudian tiba-tiba beliau mengisyaratkan dengan tangannya kepada jama’ah untuk duduk. Lalu beliau pergi dan mandi.
Secara zhahir, hadits kedua di atas memberi petunjuk bahwa takbir Nabi shallallahu alaihi wa sallam dilaksanakan setelah takbir makmum. Sebab, semula beliau dianggap belum takbir karena dalam keadaan tidak suci, ini pun didasarkan pada kaidah bahwa shalat makmum tidak ada hubungannya dengan shalat yang dilakukan imam.
Lalu hadits kedua tidak memberikan petunjuk apakah makmum mengulangi takbir atau tidak. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk mengertikan salah satunya, kecuali apabila terdapat petunjuk syariat.
Padahal hukum asalnya adalah bahwa makmum harus mengikuti imam, hal itu tidak terwujud kecuali apabila imam terlebih dahulu takbir sebelum makmum.
Diringkas Dari: Bidayatul Mujtahid Karya Ibnu Rusyd Halaman 325-326
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















