56. Hati pencinta Allah hanya bisa tenteram dengan mengingat-Nya, dan jiwa para perindu hanya bisa tenang dengan melihat-Nya. (Jami’ul-‘Ulum wal-Hikam)
57. Para pencinta Allah tidak akan menyibukkan diri pada hal-hal yang menjauhkan mereka dari-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang paling mereka cintai selain menyendiri bersama-Nya. (Jami’ul-‘Ulum wal-Hikam)
58. Yang paling dicintai oleh pencinta sejati adalah berita tentang Kekasihnya dan hal-hal yang membuatnya mengingat-Nya. (Madarijus-Salikin)
59. Hati akan hidup bersama Allah, dan tiada kehiduan tanpa kebersamaan dengan-Nya. Maka ketika lidah bergerak, hatinya ingat akan Allah, dan setiap detakan hatinya hanya untuk-Nya. Kata dan tindakan yang keluar darinya hanya yang sesuai dengan keridhaan dan ketentuan Allah. Dari sinilah muncul kesabaran, keteguhan hati, harapan, ketenangan, dan kerinduan bertemu dengan-Nya, sehingga mencegah dirinya dari tindakan melanggar hukum yang telah ditentukan. (Raudhatul-Muhibbin)
60. Penyendirian hamba menuju Allah adalah bukti kebenaran cinta. (Ar-Risalah at-Tabukiyah)
Ibnu Qayyim Rahimahullah dalam bukunya, “Seorang yang buta tidak cemas dengan minim atau hilangnya teman, karena hatinya sudah terpaut dengan orang-orang yang pertama kali dia rasakan, yaitu orang-orang yang dikaruniai nikmat oleh Allah di kalanga para Nabi, shiddiqun, syuhada, dan shalihin. Dan mereka itulah teman yang terbaik. Maka kesendirian hamba dalam memburu apa yang dicarinya merupakan bukti dari ketulusan pencarinya.” (Ighatsatul-Lahfan)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















