36. Mahabbatullah (cinta Allah) terhadap hamba adalah faktor yang paling menentukan bagi tumbuhnya kesabaran dalam menghindari kemksiatan terhadap-Nya, karena seorang pencinta akan patuh dan tunduk pada Kekasihnya. Ketika cinta menguat dalam hati, kecendrungan untuk taat dan meninggalkan maksiat justru lebih kuat lagi. Sementara timbulnya kemaksiatan dan penentangan tidak lain karena lemahnya cinta dalam hati. (Thariqul-Hijratain)
37. Allah Yang Mahaperkasa dikenal oleh para pencinta melalui nama dan sifat-Nya, dan mereka berusaha keras agar bisa bertemu dengan-Nya. Sayangnya, kita sibuk mengumpulkan harta dan jauh dari usaha-usaha seperti mereka. (Al-Fawa’id)
38. Cinta yang tulus dan benar akan menghalangi tindakan terus menerus dalam kubangan dosa dan tiadanya malu terhadap Allah Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib. (Istisyaqu Nasimil-Uns min Nafahati Riyadil-Quds)
39. Setelah cinta bersemayam dalam hati dan memenuhi seluruh rongga hati itu, maka cinta tersebut akan menjauhkan hati dari apa yang dibenci Allah, sehingga yang tersisa di dalamnya hanya kecintaan terhadap Allah dan segala hal yang dicintai-Nya. Ucapan dan tindakannya pun selalu mengarah pada ketaatan yang mengharuskan dirinya untuk senantiasa mendekatkan diri pada-Nya, sehingga membuat hatinya tenteram. (Istisyaqu Nasimil-Uns min Nafahati Riyadil-Quds)
40. Barangsiapa yang mencintai Allah Azza Wa Jalla, maka Allah pun akan mencintainya. Barangsiapa yang meraih cinta-Nya, berarti ia telah mendapatkan suatu kemenangan yang tiada terhingga, akan dimasukkan ke dalam surga, diselamatkan dari neraka, dan dirapihkan segala urusannya, baik urusan dunia maupun akhirat. (Tuhfatudz-Dzakirin)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















