26. Siapa yang mendapatkan cinta Allah, maka ia akan dikaruniai anugerah untuk mencintai-Nya, taat, dan sibuk untuk mengingat dan mengabdi pada-Nya. (Jami’ul-Ulum wal-Hikam)
27. Cinta yang benar menuntut sikap saling memberi perhatian. Sepakat dalam menyukai hal-hal yang disenangi, dan benci terhadap hal-hal yang makruh (dibenci). (Jami’ul-Ulum wal-Hikam)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (24)
Katakanlah: “Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah[9]: 24)
28. Pencinta sejati menggerakkan lidahnya hanya karena, demi, dan untuk Allah. Diam, bergerak, tenang, dan gundahnya pun karena Allah semata, dan seluruh kehidupannya selalu bersama-Nya. (Miftahu Daris-Sa’adah)
29. Cinta Allah dengan mengenal, mengingat, menyerahkan diri, takut dan berharap kepada-Nya, di mana hanya Dia Yang mendominasi segenap kerisauan, cita-cita dan keinginannya, adalah nikmat kehidupan dunia yang tiada tara. Ia merupakan nikmat surgawi, keriangan bagi pencinta, dan kehidupan bagi kaum ‘arifin. Dan tingkat kesenangan seseorang pada orang lain tergantung pada kadar kecintaan dirinya terhadap Allah. Barangsiapa yang merasa senang dengan Allah, maka semua makhluk pun akan senang padanya. Dan siapa yang tidak senang dengan Allah, maka jiwanya akan terpotong kegalauan dunia. (Al-Wabil Ash-Shayyib)
30. Cinta itu adalah makanan hati dan santapan rohani. Hanya dengan cinta, hati bisa mereguk kelezatan, kenikmatan, kebahagiaan dan kehidupan. Bila hati kehilangan cinta, maka sakitnya melebihi sakit mata yang kehilangan pengelihatan, telinga yang kehilangan pendengaran, dan lidah yang tak bisa berbicara. Bahkan hati yang jauh dari cinta Tuhannya, lebih parah dari perpisahan ruh dari tubuh. (Al-Jawab Al-Kafi)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















