Pilihan Pertama
“اللَّهُمَّ (رَبِّ!) اغْفِرْ لِيْ، وَارْحَمْنِيْ، [وَاجْبُرْنِيْ]،[وَارْفَعْنِيْ]، وَاهْدِنِيْ، [وَعَافِنِيْ]، وَارْزُقْنِيْ”
(HR. Ahmad [I/315, 371], Abu Dawud [no. 859], at-Tirmidzi [no. 284], Ibnu Majah [no. 898], al-Hakim [I/262, 271), al-Baihaqi [II/122], dan selainnya dari Ibnu Abbas. Ini adalah lafazh al-Hakim [I/271], lafazh yang lain terdapat dalam Ahmad dan lainnya. Adapun tambahan dalam kurung [ ] adalah milik Abu Dawud)
Pilihan Kedua
“رَبِّ! اغْفِرْ لِيْ، رَبِّ! اغْفِرْ لِيْ”
(HR. Abu Dawud, Kitab “ash-Shalaah,” Bab “Maa Yaquulur Rajul fii Rukuu’ihi wa Sujuudihi,” no. 874. Ibnu Majah, Kitab “Iqaamatush Shalaah wa Sunnah Fiiha,” Bab “Maa Yaquulu Bainas Sajdatain,” no. 897. Dinilai shahih oleh al-Albani di dalam kitab Irwaa-ul Ghalil, no. 335. Juga kitab Shahiih Ibni Majah (I/148))
Pilihan Ketiga
“اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ، وَارْحَمْنِيْ، وَاجْبُرْنِيْ، وَاهْدِنِيْ، وَارْزُقْنِيْ”
(HR. Tirmidzi, Abu Dawud. Tetapi Abu Dawud dalam hadits itu: وَعَافِنِيْ (dan maafkanlah aku), sebagai ganti وَاجْبُرْنِيْ (cukupilah aku).)
Pilihan Keempat
“اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ، وَارْحَمْنِيْ، وَعَافِنِيْ، وَاهْدِنِيْ، وَارْزُقْنِيْ”
(HR. Abu Dawud, Kitab “Ash-Shalaah” bab “Ad-Du’a Bainas Sajdatain” no. 850)
Pilihan Kelima
” رَبِّ اغْفِرْ لِيْ، وَارْحَمْنِيْ، وَاجْبُرْنِيْ، وَارْزُقْنِيْ، وَارْفَعْنِيْ”
(HR, Ibnu Majah, Kitab “Iqaamatush Shalaah” Bab “Maa Yaquulu Bainas Sajdatain” no. 897. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam kitab Shahiih Abu Dawud (I/160). Juga kitab Shahih Ibnu Majah (I/148))
Pilihan Keenam
… … … !!! !!! !!!
CATATAN:
- Menurut madzhab Hanafiyah tidak ada doa yang disunnahkan untuk dibaca dalam posisi duduk di antara dua sujud, sedangkan Malikiyah tidak menuturkan doa-doa itu kecuali sekadar posisi sunnah tetapi Syafi’yah dan Hanabilah menganggap masyru’ bahkan madzhab Hanabilah mewajibkannya.
- Sengaja penulis menyampaikan pilihan keenam karena ditengah masyarakat kita sangat masyhur doa yang keenam yang tidak ada pada lafazh pilihan pertama sampai pilihan kelima di atas dengan menambah satu kata pada lafazh yang terakhir yakni kata “WA’FU ‘ANNI (وَاعْفُ عَنِّيْ)”, namun setelah penulis memeriksa dan mengamati hadits-hadits pilihan pertama sampai pilihan kelima, penulis belum pernah menemukan kata yang masyhur tersebut di dalam kitab-kitab hadits. Berarti dalam ilmu hadits lafazh ini sulit didapat dalam kitab-kitab hadits kecuali mudah ditemukan padakitab-kitab pelajaran shaat lalu sumbernyadari mana??? Lafazh ini rupanya ada pada kitab Al-Gazali yakni Al-Ihya Ulumuddin jilid I halaman 155 namun semua orang paham bahwa kitab Al-Ihya Ulumuddin bukan kitab hadits.
- Dengan menyadari keterbatasan ilmu hadits saya maka penulis sangat bersyukur jika ada yang mampu menunjukkan lafazh “WA’FU ‘ANNI (وَاعْفُ عَنِّيْ)” tersebut di kitab-kitab hadits.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















