1. Madzhab Syafi’i berpendapat kedua telapak kaki harus direnggangkan sejauh satu jengkal.
2. Madzhab Hanafi dan Hanbali: Sunnah merapatkan kedua telapak kaki ketika sujud, dengan alasan:
a. Terdapat dalam hadits:
فَقَدْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ مَعِيْ عَلَى فِرَاشِي فَوَجَدْتُهُ سَاجَدًا، رَاصَّا عَقِبَيْهِ، مُسْتَقْبِلًا بِأَطْرَافِ أَصَابِعِهِ الْقِبْلَةَ، فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخْطِكَ، وَبِعَفْوِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَبِكَ مِنْكَ، أُثْنِي عَلَيْكَ، لَا أَبْلُغُ كُلَّ مَا فِيْكَ. فَلَمَّا انْصَرَفَ؛ قَالَ: يَا عَائِشَةُ! أَخَذَكِ شَيْطانُكِ؟ فَقُلْتُ: أَمَا لَكَ شَيْطَانٌ؟ فَقَالَ: مَا مِنْ آدَمِيٍّ إِلَّا لَهُ شَيْطَانٌ. فَقُلْتُ: وَإِيَّاكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟! قَالَ: وَإِيَّايَ، لَكِنِّيْ أَعَانَنِيَ اللهُ عَلَيْهِ؛ فَأَسْلَمَ
Aku tidak menjumpai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang sebelumnya bersama denganku di pembaringan. Kemudian aku mendapati beliau sedang sujud, dan merapatkan kedua tumit kakinya serta ujung jari-jari kakinya diarahkan ke kibat. Dan aku mendengar beliau mengucapkan, “Aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, dan berlindung kepada-Mu dari adzab-Mu. Aku memuji-Mu, namun setiap pujian itu tidak akan mencapai dengan segala yang ada pada-Mu.” Setelah beliau menyelesaikan shalatnya, beliau bersabda, “Wahai Aisyah, syaitanmukah yang menuntunmu?” Aku bertanya, “Apakah engkau tidak mempunyai syaitan?” Beliau menjawab, “Tidak seorangpun dari Bani Adam kecuali ada syatan menyertainya.” Aku berkata, “Jika begitu juga engkau wahaiRasulullah?” Beliau menjawab, “Demikian juga aku, akan tetapi Allah telah memberikan pertolongan-Nya kepadaku hingga syaitan memeluk Islam.” (HR. Ath-Thahawi dalam al-Musykil 1/30, Ibnu Khuzaimah no. 654, Al-Hakim 1/228, Al-Baihaqy 2/116. Al-Hakim berkata hadits ini shahih sesuai dengan kriteria Bukhari, Muslim dan adz-Dzahabi menyetujuinya)
b. Tambahan lafazh tersebut dikuatkan oleh riwayat-riwayat lain, antara lain HR. Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ahmad, Ibnu Majah, Tirmidzi, Malik.
c. Semua hadits-hadits yang mendukung tersebut tidak ada yang saling bertentangan:
– Muslim no. 751 dengan lafazh, “Lalu tanganku memegang bagian bawah telapak kaki beliau.”
– Abu Dawud no. 745 dengan lafazh, “Maka tersentuhlah beliau olehku di masjid dengan kedua telapak kakinya yang tegak ke atas.”
– An-Nasa’i no. 1118 dengan lafazh, “Aku dapati beliau yang sedang sujud, sedangkan kedua telapak kakinya tegak menghadap ke kiblat.”
– Malik no. 448 dengan lafazh, “Tanganku menyentuh kedua kaki beliau yang sedang sujud.”
– Ahmad no 24475 dengan lafazh, “Aku menyentuhnya dengan tanganku kedua telapak kakinya sementara beliau di masjid dan kedua telapak kakinya sedang berdiri tegak.”
– Tirmidzi no. 3415 dan Ibnu Majah no. 3831 dengan lafazh, “Aku meraba-raba dan tanganku menyentuh kedua telapak kaki beliau yang sedang bersujud.”
d. Jika kita perhatikan matan hadits tersebut ada kata “Menyentuh, mendapati, memegang” semua itu tidak saling bertentangan. Bagaimana mungkin tangan Aisyah memgang (meyentuh) bagian bawah telapak kaki beliau atau lekukan telapak kaki beliau jika salah satu dari kedua telapak kaki itu berjauhan dengan telapak kaki yang lain. Kemampuan Aisyah menyentuh kedua telapak kaki Nabi dalam posisi sujud berarti telapak kaki Nabi tersebut dalam posisi rapat, bukan sejengkal apalagi lebih dari itu. Dan tafsir tersebut telah diperjelas oleh riwayat Urwah bin Zubair.
e. Riwayat Urwah bin Zubair adalah riwayat kunci karena riwayat inilah ada kata “merapatkan”. Dalam ilmu hadits ini bukan riwayat yang syadz sebagaimana pernyataan sebagian ulama hadits karena riwayat urwah ini tidak ada mukhalafah (pertentangan) tetapi yang ada hanya tambahan dan tambahan tersebut tidak bertentangan, lagipula Urawah bin Zubair dengan Aisyah sangat dekat (anak dari kakak Aisyah), Urwahlah yang banyak mendengarkan hadits-hadits dari Aisyah. Menurut Imam Adz-Dzahabi, “Urwah menibah ilmu dari Aisyah dan menjadi pakar fikih hasil didikan Aisyah radhiyallahu anha”.
f. Jika jalur Urwah dipermasalahkan oleh sebagian ulama hadits karena melalui jalur Yahya bin Ayyub seperti kutipan Ibnu Sa’id (w.230 H) berkata, “Yahya munkar hadits”, Ahmad bin Hanbal (w.241 H), “Hafalannya tidak bagus”, namun banyak ulama hadits yang menerima beliau antara lain, Al-Bukhari berkata, “Ia shaduq (jujur)”, Al-Ijli (w.261 H), “Ia tsiqah (dipercaya) dan adil”, Abu Dawud, ia mengatakan “Tsiqah dan shaleh”, Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi (w.277 H) mengatakan, “Ia tsiqah”, Ibnu Adi ra (w.365 H) mengataka, “Ia tsiqah”, AL-Hafizh Ibnu Hajar (w.852 H) mengatakan, “Ia shaduq namun terkadang mengalami kekeliruan”. Jika disimpulkan maka Yahya bin Ayyub kalaupun ada yang mejarh (ungkapan cacat perawi) namun tidak berarti semua hadits Yahya bin Ayyub tidak shahih termasuk pada hadits merapatkan kedua telapak kaki pada saat sujud.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















