Sejumlah tetangga, kerabat dan handai tauland almarhum Drs. Muhammad Achyar Ibrahim, M.Si. Ak. (64 tahun) merasa kehilangan atas kepergiannya menghadap Allah SWT. Ahad (14/7/24). Pasalnya sosok yang sangat dekat dengan warga di kompleks Unhas Antang, kecamatan Manggala kota Makassar itu dikenal humoris dan ramah kepada sesama warga.
Hal ini terungkap saat Prof.Dr.Ir. Amran Saru, M.Sc. yang merupakan tetangga almarhum membawakan sambutan di rumah duka. Menurut mantan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas itu, selama 30 tahun kurang lebih dia bertetangga dengan almarhum, tidak sekalipun dirinya cekcok atau bertengkar dengannya.
“Saya bertetangga dengan beliau kurang lebih 30 tahun. Suka duka kami jalani bersama. Kami juga sering bercengkrama. Beliau ini humoris dan dekat dengan tetangga lainnya,” ujar Amran Saru
Kisah sedih Amran Saru yang tidak pernah ia lupakan, saat anak anak mereka masih kecil hingga sarjana di lalui bersama di kompleks tersebut. “Kami bersama membesarkan anak anak kami disini (Kompleks Unhas Antang-red) dari kecil hingga mereka semua sarjana. Ada banyak kenangan bersama beliau yang tidak sempat saya sebutkan satu persatu. Jadi atas kepergian beliau, tentu saja kami sangat kehilangan” Urai Amran Saru dengan mata berkaca kaca.
Sementara itu sambutan dari perwakilan kolega Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Gagaring Pagalung,SE., MSi.,Ak.Ac.Cpa, menekankan jika sosok almarhum merupakan contoh tauladan yang patut ditiru.
“Selama beliau berinteraksi dengan kami di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, beliau telah memberi contoh suri tauladan yang baik, seperti kesederhanaan dan rendah hati. Bukan hanya itu, tapi juga dalam perjalanan hidupnya, beliau dikenal ramah dan baik, bukan hanya di fakultas kami, tapi juga pada semua civitas akademi di Unhas. Jadi melalui kesempatan ini saya ucapkan turut belangsukawa atas kepergian beliau mendahului kami” urai Prof. Dr. Gagaring Pagalung singkat.
Sementara itu, Founder sekaligus pembina Tajdidul Iman (TI) Kiai Sudirman didaulat membawakan tauziah singkat sebanyak 2 kali, pada saat di rumah duka usai jenazah di mandikan dan pada saat almarhum usai di makamkan di pemakaman Raudatul Jannah Tajdidul Iman Moncongloe kabupaten Maros.
“Tentu kami sangat kehilangan atas meninggalnya beliau, teman, saudara dan keluarga kami tercinta, tapi ini semua kehendak Allah SWT yang tidak ada satupun dapat menghalangi ataupun mencegahnya. Kembali saya ingatkan, bahwa kematian itu nyata. Ini adalah nasehat besar bagi kita yang masih hidup. Dan ini pelajaran berharga, bahwa jangan pernah meremehkan kematian, karena ini pasti datangnya!.” Ujar Kiai Sudirman dengan tegas.
Disisi lain sekretaris Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin. Darmawati,SE.,M.Si., Ak.Ca. juga di daulat membacakan riwayat Hidup Almarhum. Kemudian dilanjutkan sepatah kata dari keluarga almarhum bernama Ahmad Nuhun yang mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu almarhum dari rumah duka hingga di makamkan.
Tampil membacakan Qalam ilahi sebagai Qori Ustad Saharuddin Daeng Tulung, S.Ag. (tim)






















