Jihad dalam hidup adalah hal yang sangat penting dilaksanakan bagi muslim. Hal ini jelas tergambar dalam Quran utamanya pada surah Al-Ankabut yang merupakan surah ke-29. Surah ini sendiri terdiri dari 69 ayat dan termasuk ke dalam golongan Makkiyah, karena diturunkan di Kota Makkah.
Tapi jihad yang dimaksud founder sekaligus pembina Tajdidul Iman, KH Sudirman, S.Ag di laman Youtube miliknya, Jumat (17/1/2024) siang. Adalah Jihad dalam kebaikan dan ketaatan hanya kepada Allah SWT
Kalaupun ada kata Jahadu, kata Kiai Sudirman, itu bukan berarti jihad secara Frontal, Vital atau Perang. Dalam Ilmu munasabatul (ilmu yang mempelajari hubungan antara ayat-ayat Al-Qur’an-red), menjelaskan kedudukan surah al-Ankabut tersebut dalam menerangkan arti Jihad.
“Dalam ayat 69 surah tersebut, merupakan jawaban dari ayat pertama dan dua, yang berbunyi, (1) Alif Lam Min. (2) A-ḫasiban-nâsu ay yutrakû ay yaqûlû âmannâ wa hum lâ yuftanûn Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?” kata Kiai.
Pernyataan keimanan kita kepada Allah, tambah kiai Sudirman, seperti Syahadat kepada Allah dan rasul-Nya, harus melalui pengujian.
“Itu pernyataan bagi kita. Namun Allah SWT, pasti akan menuntut bukti. Sebab tidak mudah itu mengucapkan Amanna saya beriman kepada Allah dan hari Kiamat, tanpa diuji seperti orang-orang sebelum kalian” tambah Kiai Sudirman.
Hal ini, kata Kiai dijelaskan Dalam ayat selanjutnya (ayat 3) yang berbunyi wa laqad fatannalladzîna ming qablihim fa laya‘lamannallâhulladzîna shadaqû walaya‘lamannal-kâdzibîn
“Sungguh, Kami benar-benar telah menguji orang-orang sebelum mereka. (Untuk Apa? Agar) Allah mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui para pendusta.”
“Apa hubungannya ayat pertama, dua, tiga, dengan ayat terakhir (69)? Didepan bertanya, Dibelakang jawabannya. Inilah hebatnya Al-Quran. Apakah kamu mengira bahwa manusia yang sudah menyatakan Allah Tuhanku, Muhammad rasulku, Quran kitabku, Ka’bah kiblatku, lalu dibiarkan begitu saja tanpa ada proses pengujian dari Allah SWT. Sejujurnya pasti di uji, Sebab Allah SWT, ingin tahu siapa yang jujur dan siapa yang membangkang” sambung kiai Sudirman
Mau beriman sungguh-sungguh, mau sukses atas keimanan ini? Allah SWT kata Kiai cuma minta dua saja, “Yakni orang – orang yang sungguh-sungguh dijalanku dan yang kedua mereka yang menata niatnya hanya untuk mencari Ridha Allah SWT.” Jelas Kiai
Dan hal ini dijelaskan Allah SWT pada ayat 69 yang berbunyi “walladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannahum subulanâ, wa innallâha lama‘al-muḫsinîn”
Artinya, Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridaan), Kami benar-benar akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.
Kiai Sudirman juga menggambarkan bagaimana Imam Abu Hanifah yang rela menjual seng rumahnya,, hanya untuk mendapatkan ilmu dengan cara membayar spp-nya.
“Beliau membeli kitab, dengan cara menjual atap sengnya. Inilah cara beliau dalam menghargai ilmu. Begitupula dengan Imam Al Bukharim beliau berjihad selama 16 tahun rela berjalan kaki dari satu negeri ke negeri lainnya demi mendapatkan ilmu, maka ini juga adalah Jihad” kata Kiai Sudirman.
Terakhir, Kiai menggambarkan saat dirinya berada di kampung halamannya, dia katakan harus berjalan kaki sejauh 10 kilometer untuk mendapatkan ilmu.
“Sudah shalat subuh kami harus berangkat ke sekolah dengan jarak lebih 10 kilo. Saat itu belum ada Grab, belum ada kendaraan. Kami harus melewati sungai. Kalau banjir, airnya sampai di dada, tapi kami tidak kenal lelah untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Inilah semua yang dimaksud dalam penjelasan surah Al-Ankabut tersebut bahwa Jihad itu adalah menuju kepada kebaikan,” kunci Kiai Sudirman. (tim)






















