Pentingnya ilmu aqidah dan tauhid terlihat dalam upaya untuk menyelamatkan diri dari dosa terbesar dalam Islam, yaitu syirik atau politeisme. Menanamkan pemahaman yang benar tentang tauhid membantu umat Islam untuk menjauhkan diri dari segala bentuk penyekutuan dengan Allah, yang merupakan larangan keras dalam ajaran agama, maka yang sangat penting adalah Ilmu.
Hal ini disampaikan Founder sekaligus Pembina Tajdidul Iman, KH. Sudirman S.Ag dalam laman kanal You tube miliknya Senin, 11/11/2024 pagi.
“Ilmu dulu baru amal. Ya seperti ada orang rajin shalat, tetapi shalatnya tidak sesuai dengan ilmu. Maka sulit untuk diterima di sisi Allah Subhanahu Wa Taala” ungkap Kiai Sudirman.
Terutama sambung Kiai adalah ilmu Tauhid yang berkaitan dengan ilmu Aqidah “Karena bagaimana mau beribadah kepada Allah kalau kita tidak kenal siapa yang di ibadahi. Nah di sinilah pentingnya ilmu mengenal Allah Subhanahu Wa Taala. Itulah ilmu tauhid yang dipelajari nabi kita Muhammad SAW, kurang lebih 13 tahun untuk memperkuat pondasi ummat Islam, ” tambah Kiai.
Maka perbaiki Aqidah kita, karena Aqidah itu mesinnya ibadah. Sementara kita ini adalah mesinnya amal. “Kalau aqidah kita tidak baik, maka akan sulit bagi kita untuk beramal. Kemudian ilmu yang kedua adalah mengenal bagaimana caranya beribadah. Nah caranya dengan itiba (mengikuti-red) apa yang diajarkan Rasulullah SAW, sebagai Uswa teladan kita” katanya
“Dari Malik (telah bersabda Rasulullah saw): “Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”(H.R. Bukhari). Jadi ibadah itu ada ilmunya dan kita di tuntut untuk mengetahui dengan mempelajarinya” jelas Kiai Sudirman.
Disisi lain, Kiai juga mengkritisi beberapa orang yang Allah beri karunia untuk shalat, namun mengabaikannya. “Saya sering mengatakan kalau ada orang gagah-gagah, tampan, tubuhnya bagus seperti atlit, tapi dia tidak shalat. Maka sungguh kasihan orang itu. Bagaimana tidak bodinya bagus…, tapi 5 menit berdiri di hadapan Allah dia tidak sanggup. Ini ciri ciri manusia yang merugi” ujarnya.
Soal shalat ini menjadi sangat penting, dan akan dimintai pertanggungjawaban kita. Kiai Sudirman juga mengutip penggalan ayat Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6 yang berbunyi Ku anfusakum wa ahlikum nara artinya “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.
“Keluarga itu adalah anak anak kita, istri kita dan ini menjadi bagian tanggung jawab kita untuk menyuruhnya shalat. Jangan sampai masjid ini dipenuhi dengan orang tua, tapi sayang anak-anak dan istri kita tidak dilibatkan atau di ajak bersama sama berjamaah di masjid, tentu akan menjadi kerugian yang besar.” Tandas Kiai Sudirman (tim)






















