Saat membahas kitab Riyadhussholihin di Markas Tajdidul Iman jalan Rappokalling Makassar, Ahad 2/11/2025 pagi, Kiai Sudirman sangat menekankan pentingnya menjaga rasa malu, karena sifat malu adalah bagian dari iman dan merupakan akhlak mulia yang berfungsi sebagai benteng dari perbuatan buruk.
“Malu itu adalah akhlak mulia. Saya beri contoh misalnya kita berada di suatu hajatan yang banyak menyajikan panganan seperti kue. Terkadang kita tidak mempunyai adab atau rasa malu yang membungkus semua hidangan tersebut, tanpa kita diminta.” Uar Kiai Sudirman.
Namun, sambung pendiri sekaligus pembina Yayasan Tajdidul Iman tersebut, jika tuan rumah persilahkan kita membungkus, itu tak masalah. “Itu namanya Dalle (rezeki-red). Namun bukan menghilangkan harga diri kita dengan cara yang tidak beretika” terang kiai Sudirman dihadapan para jamaah akhwat dan ikhwan yang memadati aula markas Tajdidul Iman tersebut.
Kiai Sudirman juga menyampaikan bahwa anjuran menjaga rasa malu ini disampaikan Rasulullah SAW melalui beberapa hadis sahih seperti “Jika kamu tidak malu, lakukanlah apa pun sesukamu.” Hadis terkenal ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, salah satu hal yang diingat oleh orang-orang dari perkataan nabi terdahulu adalah, ‘Jika kamu tidak malu, lakukanlah apa pun sesukamu’.”.
“Hadis ini memberikan peringatan keras bahwa hilangnya rasa malu akan membuat seseorang tidak memiliki penghalang untuk melakukan segala kemaksiatan dan keburukan.” Katanya.
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, “Iman dan malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan kondisi. Apabila rasa malu sudah tidak ada, maka iman pun sirna,” (HR. Al-Hakim).
“Ini menunjukkan hubungan erat antara keimanan dan rasa malu; semakin kuat iman seseorang, semakin besar pula rasa malunya.”
Mengapa Rasulullah SAW meminta menjaga Malu? Sebab kata Kiai yang juga wakil ketua PDM Makassat itu, rasa malu mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, serta menghalangi dari melakukan dosa dan melalaikan kewajiban kepada Allah SWT maupun sesama manusia.
“Tanda Keimanan: Sifat malu adalah salah satu tolok ukur kualitas iman seorang Muslim. Semakin kuat rasa malu seseorang, semakin kokoh pula keimanannya. Termasuk malu mengambil sesuatu yang bukan haknya ” tandas Kiai Sudirman. (*)






















