مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِيْ جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَ عُمْرَةٍ تَامَّةً تَامَّةً تَامَّةً
“Siapa yang shalat Shubuh secara berjamaah, kemudian duduk hingga terbit matahari, lalu shalat dua rakaat, maka akan mendapatkan pahala bagaikan melakukan haji dan umrah dengan sempurna…dengan sempurna…dengan sempurna. ” (Sunan at-Tirmidzi juz II hal. 481 no. 481 no. 586 hadist serupa dikeluarkan juga, dengan tambahan ‘di masjid’, oleh Thabrani juz VIII hal. 178 no. 7741, menurut Haitsami (juz X hal. 104) sanad-sanadnya baik. Dinilai sebagai hadist hasan lighairihi oleh al-Albani dalam Shahih al-Tharghib wa al-Tarhib juz I hal. 111 no. 464, lihat juga Shahih Kitab al-Adzkar juz I hal. 213 karya Syaikh Salim al-Hilali)
Dari Abu Umamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى، كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ، أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ
“Barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh dengan berjama’ah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunnah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumroh secara sempurna.” (HR. Thabarani, Al-Albani dalan Shahih Targhib)
CATATAN DARI HADITS DI ATAS
1. Amal ini cukup sederhana, tidak memakan waktu lama, tanpa biaya, dan bisa dilakukan tanpa kepanasan dan kecapean, cukup berbekal keikhlasan dan kesabaran.
2. Caranya, selepas shalat Shubuh dan berdzikir setelah shalat, dilanjutkan dengan berdzikir dengan tahmid, takbir, atau tasbih, beristighfar, membaca shalawat, atau membaca al-Qur’an, dll hingga matahari terbit.
3. Beberapa saat setelah matahari terbit melakukan shalat sunah, cukup dua rakaat (shalat Isyraq).
4. Hadits di atas adalah dorongan untuk melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah (di masjid).
5. Bagi yang mendapatkan udzur (sakit, dan sebagainya) sehingga tidak datang ke masjid, insya Allah mendapatkan pahala keutamaan dengan melakukan sebagaimana ketidak tidak ada udzur.
6. Wanita yang melakukan hal yang sama di rumahnya, insya Allah mendaptkan keutamaan yang sama (Fatwa Syaikh bin Baz)
7. Shalat isyraq adalah awal shalat dhuha (Fatwa Syaikh Shaleh al-Utsaimin).
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيْدُ إِلَّا اَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرَا أَوْ يُعَلِّمَهُ, كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجَّ, تَامَّا حَجَّتُهُ
“Siapa di pagi hari berangkat ke masjid hanya untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka dirinya mendapatkan pahala bagaikan orang yang melakukan haji dengan sempurna.” (Hadist dikeluarkan oleh Thabrani juz VIII hal. 94 no. 7473 – menurut Haitsami bahwa semua periwayatnya terpercaya, tanpa kecuali – al-Hakim I/169 no. 311, kata beliau Bukhari berhujjah dengan hadist ini dan Imam Muslim mengutip hadist ini di dalam al-Syawahid, Abu Nu’aim VI/97, dan Ibnu Asakir XVI/456. Oleh al-Albani dinyatakan sebagai hadist hasan shahih dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib juz I hal. 20 no. 86)
PERHATIAN!!!
MESKIPUN MENYAMAI IBADAH HAJI, TETAPI AMAL TERSEBUT TIDAK BISA MENGGUGURKAN KEWAJIBAN HAJI BAGI ORANG YANG WAJIB MELAKUKANNYA.
Hadits Penguat tentang Duduk Berdzikir Setelah Shalat Shubuh
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى الْفَجْرَ قَعَدَ فِي مُصَلَّاهُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ
“Apabila Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam melaksanakan shalat fajar, beliau duduk di tempat shalatnya hingga terbitnya matahari.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i dari Jabir bin Samurah)
TATA CARA SHALAT ISYRAQ
• Shalat isyraq dilakukan sebanyak dua rakaat. Gerakan dan bacaan sama dengan shalat pada umumnya.
• Waktu shalat isyraq sebagaimana waktu dimulainya shalat dhuha, sekitar 15-20 menit setelah matahari terbit.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















