1. Ia tidak boleh bertayammum, walaupun terluput waktu shalat. (Syafi’iyah, Hanbaliyah dan Abu Yusuf)
إِ… ذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ … فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا … (6)
… Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu… lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah… (QS. Al-Maidah[5]: 6)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak menerima shalat salah seorang diantara kalian jika berhadas hingga ia berwudhu.” (HR. Bukhari, Muslim)
لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ
“Tidak diterima shalat tanpa bersuci, dan tidak diterima sedekah dari pengkhiatan (harta ghanimah) ‘ (HR. Muslim dari Ibnu Umar)
2. Ia disyariatkan bertayammum lalu shalat sebelum keluarnya waktu shalat. (Ahlur Ra’yi, Al-Auza’i, Malik Ibnu Hazm, dan dipilih oleh Syaikhul Islam, Ibnu Abdil Baar. Adapun Madzhab Hanafi membatasinya yaitu dibolehkan jika shalat yang akan didirikan itu tidak dapat digantikan)
فَقَالَ أَبُو الْجَهْمِ أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَحْوِ بِئْرِ جَمَلٍ فَلَقِيَهُ رَجُلٌ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ حَتَّى أَقْبَلَ عَلَى الْجِدَارِ فَمَسَحَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ رَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ
Maka Abu al-Jahm berkata, “Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam datang dari arah sumur Jamal, lalu seorang laki-laki bertemu dengannya, dan ia ucapkan salam kepada beliau, tetapi Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam tidak menjawabnya hingga beliau sampai di dinding, lalu beliau usap wajahnya dan kedua tangannya, barulah beliau menjawab salam tersebut.” (HR. Bukhari, Muslim)
KESIMPULAN: Setelah kami membandingkan duapendapat di atas, dengan menambah referensi lain kami lebih memilih yang rajih insya Allah pendapat pertama.karena itu termasuk udzur sama hukumnya seperti tidur, lupa dan sebagainya (dapat dilihat pada Kitab Fiqih Islam dari Kitab dan As-Sunnah Karya Syaikh Shiddiq Hasan Khaan Halaman 136)
Fiqih Sunnah, Abu Malik Kamal
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















