1. Safar
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا وَإِذَا زَاغَتْ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ
Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila berangkat bepergian sebelum matahari condong, Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengakhirkan pelaksanaan shalat zhuhur hingga waktu shalat ‘Ashar lalu menggabungkan (jama’) keduanya. Dan bila berangkat setelah matahari condong, Beliau laksanakan shalat Zhuhur terlebih dahulu kemudian setelah itu berangkat”. (Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/583 no. 1112)], Shahiih Muslim (I/489 no. 704), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/58 no. 1206), dan Sunan an-Nasa-i (I/284))
2. Hujan
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ
Dari Ibnu Abbas katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat Zhuhur dan Ashar sekaligus di Madinah bukan karena takut dan bukan pula karena safar.” (Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 1070)], Shahiih Muslim (I/489 no. 705), Sunan an-Nasa-i (I/290), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/ 77 no. 1198), dengan tambahan kalimat terakhir)
3. Kebutuhan Mendesak
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ قَالَ أَبُو الزُّبَيْرِ فَسَأَلْتُ سَعِيدًا لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ كَمَا سَأَلْتَنِي فَقَالَ أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِهِ
Dari Ibnu Abbas katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat Zhuhur dan Ashar sekaligus di Madinah bukan karena takut dan bukan pula karena safar.” Abu Zubair mengatakan; “Aku bertanya kepada Sa’id; “Mengapa beliau melakukan hal itu? Dia menjawab; Aku bertanya kepada Ibnu Abbas sebagaimana kamu bertanya kepadaku, lalu dia menjawab; “Beliau ingin supaya tidak merepotkan (memberatkan) seorangpun dari umatnya.” (Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 1070)], Shahiih Muslim (I/489 no. 705), Sunan an-Nasa-i (I/290), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/ 77 no. 1198), dengan tambahan kalimat terakhir)
CATATAN: Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim (V/219), “Sejumlah imam berpendapat tentang bolehnya menjama’ shalat dalam keadaan mukim bagi orang yang tidak menjadikannya kebiasaan. Ini adalah pendapat Ibnu Sirin dan Asyhab, pengikut Imam Malik. Al-Khaththabi meriwayatkan pendapat ini dari al-Qaffal dan asy-Syasyi al-Kabiir, pengikut imam asy-Syafi’i, dari Abu Ishaq al-Marwazi, dari mayoritas kalangan ahli hadits. Ibnul Mundzir juga memilih pendapat ini. Pendapat ini diperkuat oleh zhahir perkataan Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma : “Beliau tidak ingin memberatkan umatnya.” Dia tidak menyebutkan alasan sakit atau yang lainnya. Wallaahu a’lam.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















