Sebuah ilustrasi.
Pernah mendengar bagaimana penumpang sebuah pesawat terbang ketika terjadi kerusakan teknis pada pesawat tersebut? Ya, mereka semua berdoa kepada yang bisa menolong dan menyelamatkan pesawat tersebut (yang mereka sebut dengan Tuhan). Entah Tuhan apa, yang jelas mereka berharap kepada sebuag kekuatan yang bisa menyelamatkan mereka. Sewaktu pesawat itu mulai berguncang dan oleng, sementara pilot tidak dapat berbuat apa-apa apalagi para penumpang, seketika itu juga lisan-lisan bergemuruh dengan berdoa, hati masing-masing mereka berharap penuh kepada satu titik lagi-lagi ini yang disebut Tuhan. Dalam kondisi yang menegangkan ini tidak tersisa lagi orang yang tidak percaya kepada Tuhan (Atheisme) bahkan semuanya tulus ikhlash, syirikpun lenyap termasuk kepada sang atheis.
Gambaran tentang cerita di atas menunjukkan bahwa kita yakin ada Dzat yang mendengar dan mengabulkan doa orang-orang yang menghadapi kesusahan. Maka kita mengetahui keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui panca indra bisa dijelaskan dalam dua sisi.
1. Adanya pengabulan doa dan pertolongan kepada orang-orang tertimpah kesusahan, sebagaimana firman Allah:
وَنُوحًا إِذْ نَادَى مِنْ قَبْلُ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ (76)
Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika Dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan Dia beserta keluarganya dari bencana yang besar. (QS. Al-Anbiya[21]: 76)
Dan juga firman-Nya:
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ (9)
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut”. (QS. Al-Anfaal[8]: 9)
Pengabulan doa bagi orang-orang yang meminta kepada Allah senantiasa menjadi sebuah perkara yang disaksikan oleh panca indra kita sampai masa kini.
2. Pembuktian keberadaan Allah melalui panca indra dapat juga disaksikan oleh menusia sepajang sejarah yaitu dengan adanya mukjizat-mukjizat para Nabi. Manusia sepanjang sejarah sudah mendengar dan menyaksikan oleh indra mereka bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala membela dan meolong para Nabi dan Rasul-Nya dengan berbagai kejadian yang luar biasa di luar batas kemampuan manusia. Ini yang kita sebut dengan mukjizat. Semua itu adalah bukti konkrit yang mengungkap keberadaan Dzat yang telah mengutus mereka dengan kebenaran. Contoh nyata mukjizat tersebut dikisahkan dalam berbagai kitab suci antara lain: Mukjizat Nabi Musa ketika beliau diperintahkan oleh Allah untuk memukulkan tongkatnya ke laut maka lautan terbelah menjadi 12 jalan yang kering. Sementara air berada di antara jalan-jalan itu seperti gunung yang besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ (63)
Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (QS. Asy-Syu’ara[26]: 63)
Begitu juga kejadian luar biasa pada Nabi Isa yang tak sanggup akal memikirkannya, yaitu Beliau bisa menghidupkan kembali orang-orang yang sudah meninggal dan mengeluarkan mereka dari kubur mereka dengan seidzin Allah. (QS. Ali-Imran[3]: 49). Demikian pula Nabi kita, ketika Beliau diminta oleh orang-orang quraisy untuk mendatangkan tanda kenabian dan kerasulannya. Maka beliau member isyarat ke arah bulan yang kemudian terbelah menjadi dua dan manusiapun menyaksikan dengan panca indranya sebagaimana firman Allah:
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ (1) وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ (2)
Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus”. (QS. Al-Qamar[54]: 1-2)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















