Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25)
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrahim[14]: 24-25)
Petunjuk-petunjuk ayat di Atas:
- Memberi segala manfaat kebaikan. Karena sebagaimana pohon yang baik tidak akan membuahkan sesuatu kecuali yang baik, maka ia pun akan menghasilkan buah yang baik, menumbuhkan daun yang bermanfaat, dan memberi keteduhan bagi siapa saja yang bernaung dibawahnya. Cahayanya indah, dan segala yang ditambahkan di atasnya akan mendatangkan kebaikan pula, yakni berupa tabiat dan sikap. Demikian itulah kalimatut tayyibah, kalimat tauhid yang tidak memberikan sesuatu kepada manusia melainkan kebaikan dan keindahan, baik kebaikan dunia maupun akhirat. Bahkan ialah yang memberi nilai kebaikan bagi kehidupan, sehingga tanpa Laa Ilaaha Illallaah, dunia ini hanyalah seonggok barang yang tak berharga dan tiada memiliki tujuan mulia. Dunia tanpa kalimat tauhid bagaikan pakaian yang rombeng atau tempat tinggal yang gelap lagi kering kerontang, meskipun mata si buta menganggapnya begitu indah dan melenakan.
- Pohon ini merupakan tanaman yang akarnya kokoh terhujam ke dalam bumi. Sehingga sebesar apapun tiupan angin dan sedahsyat apapun amukan badai, tidak akan mampu menggoyahkannya. Pergantian zaman dan perubahan hari tidak memberi arti, bahkan semakin menambah keteguhan dan kekukuhan, serta semakin menguatkan tancapan akarnya dan meninggikan julang dahannya. Demikian itulah kalimatut tayyibah yang tertanm kokoh dalam jiwa seorang mukmin yang teguh memegang tauhid. sedangkan bila ditinjau dari segi waktu dan sejarah, maka kalimat ini telah ada sebelum adanya manusia, tanamannya dipelihara para Nabi dan Rasul, serta para mujahid dengan siraman darah dan jihad, dengan seluruh kekayaan dan perjuangan sampai tetes darah terakhir.
- Batang yang teguh, akar yang kuat tertancap dalam bumi, buah yang lezat, dan dahan yang tinggi menjulang ke langit. Maka semakin dalam tancapan akarnya, semakin banyak dan kokoh cabang dahannya, akan semakin banyak pula makanan dan air yang disediakan. Dan semakin banyak pemberian yang dilimpahkan, maka pohon itu akan tumbuh semakin indah dan menjulang. Semakin lezat rasa buahnya dan semakin enak dipandang mata. Dahan yang menjulang dan cabang yang rindang ini disebabkan karena pasokan makanan dan air yang cukup. Demikian pula syahadat, pengaruhnya terhadap anggota badan dan orang lain di sekitarnya, sesuai dengan kadar keteguhan dan kekuatan iman yang tertancap dalam hati setiap mukmin. Lebih diperjelas lagi dengan ketundukan kepada Allah dengan mengerjakan seluruh syariat-Nya.
- Cabang dan buah berpengaruh pada penyebaran akar ke dalam tanah, dan kebalikannya pula, akar yang menancap kuat ke dalam tanah berpengaruh pada apa yang dia berikan kepada cabang buah. Sehingga bila sinar matahari terhalang dari daun dan cabang, itu serupa dengan tertahannya air dan udara darinya. Apabila pohon diberi minum dengan air comberan yang kotor, maka rasa buah pun berubah kurang segar. Sebaliknya, apabila pohon diberi minum dari air yang bersih dan tidak dihalangi dari udara, engkau akan melihat betapa lezat dan segar cita rasa buah yang dihasilkan. Akarnya pun tumbuh semakin kuat. Sehat, dan kokoh. Demikian pula tauhid dan iman, ia mempengarhi dan dipengaruhi oleh berbagai perkara lain. Iman dan tauhid berpengaruh terhadap anggota badan sesuai kadar kekuatan dan kelemahannya, sedangkan iman dan tauhid dipengaruhi anggota badan sesuai kadar kebaikan yang telah dilaksanakan. Apabila tauhid diaplikasikan dalam bentuk ketaatan dan kebaikan, maka iman dan tauhid akan semakin kuat tertanam; sedangkan bila diaplikasikan dalam bentuk maksiat atau dosa, maka iman dan tauhid semakin lemah.
- Pohon yang baik ini memberikan berkah yang dijadikan pemisalan dalam al-Qur’an. Karena pohon ini terus menerus memberi sesuatu yang bermanfaat di setiap masa dan zaman. Ia berbeda dengan pohon lainnya, karena mereka hanya berbuah pada musim tertentu dan tidak memberi apapun di musim yang lain. Demikian pula syahadat Laa Ilaaha Illallaah, sepanjang masa, ia senantiasa memberi buah dan kebaikan kepada orang meyakini dan menetapinya. Buah kalimat ini berbeda dengan buah ibadah lainnya, seperti shalat, puasa, haji dan zakat, yang hanya memberi buah di waktu tertentu saja. Kalimat ini selalu bersama dan mencurahkan kebaikan kepada pemiliknya di waktu mukim dan safar (perjalanan), di masa damai dan perang,dalam sikap loyalitas dan permusuhan, di waktu sendirian ataupun di tengah kerumunan, ketika berada di rumah, tempat kerja, atau di mana saja. Tauhid dan iman memberi petunjuk kepada manusia agar bertutur yang baik dan bersikap yang benar. Tingkah laku dan gerak tubuh, serta diamnya selalu diarahkan oleh syahadat Laa Ilaaha Illallaah. Dia menilai baik semua perkara yang dinilai baik oleh Laa Ilaaha Illallaah, dan dia menilai buruk semua urusan yang dinilai buruk oleh Laa Ilaaha Illallaah. Dia mencintai seseorang dan membenci orang lain karenanya. Sehingga perwujudan nya adalah sebagaimana yang digambarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala: Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. (QS. Ibrahim[14]: 25). Dan tidak hanya memberi buah pada musim tertentu saja! Maka selayaknya kita selalu mengingat dan men-tadabburi makna ini, serta hendaklah kita tepat berdiri di atas pemisalan agung ini. Inilah maksud dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrahim[14]: 25)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















