Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
… فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا …
… Karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus… (QS. Al-Baqarah[2]: 256)
Juga firman-Nya:
…وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu… (QS. An-Nahl[16]: 36)
Berdasarkan dua ayat di atas, maka setiap orang yang mengucapkan syahadat لَا إِلَهَ إِلَّا الله mengharuskan dua hal sehingga pengakuannya diterima:
- Harus mengingkari, menafikan, menolak, membuang, menutup semua yang disembah (diibadahi) selain Allah. Berarti pada kalimat لَا إِلَهَ (tidak ada ilaah yang benar) seperti pada ayat di atas فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ (Barang siapa yang ing ingkar kepada thaghut) dan وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ (Jauhilah Thaghut itu). Gagal dalam potongan ini yaitu mengingkari thaghut berarti gagal dalam bersyahadat.
- Harus mampu menetapkan, meneguhkan bahwa ILAAH yang benar itu hanya satu yaitu Allah saja. Tidak boleh ada duanya betul-betul harus dimurnikan tidak ada yang menjadi sekutu-Nya. Sebagaimana pada kalimat tauhid إِلَّا الله yaitu kecuali Allah saja. Dan pada ayat di atas terdapat kalimat وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ (dan beriman kepada Allah) dan kalimat أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ (ibadahilah Allah saja), maka orang yang bersyahadat tetapi tidak mampu menetapkan satu tempat peribadahan yaitu Allah saja maka syahadatnya tidak sah.
Simpulannya:
Kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا الله memiliki 2 rukun, yaitu:
- النَّفْيُ, yaitu mengingkari (menafikan) semua yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- الإِثْبَاتُ, yaitu menetapkan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.
Dalam bersyahadat harus mampu mengingkari semua Ilaah yang bathil dan mampu pula menetapkan hanya satu Ilaah yang benar yaitu Allah saja.
Catatan:
Pengertian dan makna “Ilaah” serta makna “Thaghut” akan ada pembahasan tersendiri. Insya Allah.
Diringkas dari:
1. Al-Aqidah fi Dhau-il Kitab was Sunnah: Al-Aqidah Fillah — Prof. Dr. Umar Sulaiman Abdullah al-Asyqar
2. Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah — Yazid bin Abdul Qadir Jawas
3. Al-Islam — Said Hawwa
4. Syuruthusy Syahadat — Syaikh Abdul Mun’im Musthafa
5. Syarah Aqidah Ash-Shahihah — Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
6. An-Nahjus Sadiid fi Syarhi Kitaabit Tauhid — Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Alu Syaikh
7. Fathul Majid Syarh kitab at-Tauhid — Al-Allamah Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















