Tawassul yang disyariatkan
1. Tawassul yang disyariatkan terbagi menjadi tiga yaitu:
a. Tawassul kepada Allah melalui nama-nama-Nya yang terpuji (Asma’ul Husna) dan sifat-sifat-Nya yang sempurna dan tinggi (Sifatul Ulya).
b. Tawassul kepada Allah melalui amal shaleh yang sering dilakukan.
c. Tawassul kepada Allah melalui doa orang yang shaleh
(Masing-masing akan dijelaskan secara terperinci)
2. Tawassul kepada Allah melalui nama-nama-Nya yang terpuji (Asma’ul Husna) dan sifat-sifat-Nya yang sempurna dan tinggi (Sifatul Ulya)
a. Seperti seorang muslim berdoa dengan ucapan, “Yaa Allah, aku minta kepada-Mu ampunan dengan nama-Mu ar-Rahman (Yang Mahapengasih), ar-Rahim (Yang Mahapenyayang), al-Lathif (Yang Mahalembut), al-Khabir (Yang Mahamengawasi) maka ampunilah aku.” Atau mengucapkan, “Yaa Allah aku minta dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu maka rahmatilah aku dan ampunilah aku.” Begitu juga dengan ucapan, “Yaa Allah aku minta kepada-Mu dengan cinta-Mu kepada Muhammad.” Sebab cinta termasuk sifat Allah Ta’ala.
b. Adapun dalil disyariatkannya tawassul semacam ini adalah firman Allah Ta’ala:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا… (180)
Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu… (QS. Al-A’raf[7]: 180)
c. Maknanya, berdoalah kepada Allah dengan bertawassul melalui nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang khusus bagi Allah Ta’ala.
d. Diantara contohnya adalah apa yang Allah sebutkan tentang doa Nabi Sulaiman ketika beliau berdoa,
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ (19)…
… “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS. An-Naml[27]: 19)
e. Dan juga ketika Rasulullah mendengar seorang berdoa dalam tasyahudnya:
دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا هُوَ بِرَجُلٍ قَدْ قَضَى صَلَاتَهُ وَهُوَ يَتَشَهَّدُ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ يَا أَللَّهُ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ قَالَ فَقَالَ قَدْ غُفِرَ لَهُ قَدْ غُفِرَ لَهُ ثَلَاثًا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam masjid, lalu beliau mendapati seorang laki-laki membaca tasyahud seusai shalat, dia mengucapkan; (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, Dzat yang Maha Esa, Dzat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tiada beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia, semoga Engkau mengampuni dosa-dosaku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.) Kata Mihjan, maka beliau bersabda: “Sungguh (dosa-dosa) nya telah di ampuni, Sungguh (dosa-dosa) nya telah di ampuni.” Beliau mengucapkannya hingga tiga kali.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ahmad serta yang lainnya dari Muhjan bin al-Adra)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















