Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22)
Terjemahan: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah[2]: 21-22)
Petunjuk-petunjuk dari ayat di atas:
- Perintah yang bersifat umum bagi seluruh manusia untuk betauhid dan larangan untuk melakukan kesyirikan. (Taisiril Karim ar-Rahman – Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)
- Kewajiban beribadah hanya kepada Allah Ta’ala, sebab ibadah merupakan alasan keberadaan kehidupan ini seluruhnya dan haramnya perbuatan syirik baik kecil maupun besar yang nampak maupun yang tersembunyi. (Tafsir al-Aisar – Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi)
- Bukti (dalil) yang menunjukkan adanya kebangkitan (kehidupan) bagi manusia setelah kematian mereka, yaitu penciptaan manusia itu sendiri, penciptaan langit dan bumi, menghidupkan bumi setelah matinya. (Tafsir Adhwa’ul Bayan – Syaikh asy-Syanqithi)
- Perintah untuk memeluk Agama Tauhid yang benar yakni hanya menyembah kepada Allah semata dan tidak memalingkan peribadahan itu dari selainnya (syirik), diawalai perintah ini dengan perintah bertauhid dengan 5 (lima) alasan yaitu: Penciptaan Manusia (Diri sendiri), Penciptaan Manusia sebelum Kita, Penciptaan Bumi, Penciptaan Langit, dan Permberian Rezki. Semua itu hanya mampu dilakukan oleh Allah lalu ditutup dengan larangan berbuat syirik setelah perenungan ayat ini dengan penuh saksama. (Tafsir al-Maraghi – Syaikh Musthafa al-Maraghi)
- Perintah untuk menjadi potret manusia pilihan yaitu ahli ibadah (tauhid) dan bertakwa kepada Allah dalam rangka memenuhi hak-hak-Nya sebagai pencipta, pemilik, penguasa, dan pemberi rezki dan sungguh tidak wajar jika kita menduakan-Nya karena tidak mungkin alam ini serba teratur jika ada dua pencipta, dua penguasa dan banyak pengatur. (Tafsir Fi Zhilalil Qur’an – Sayyid Quthb)
- Perintah dalam ayat ini adalah perinta pertama dalam lembaran-lembaran al-Qur’an yakni perintah beribadah yaitu mengesakan-Nya dan menetapi syariat agamanya dengan cara tunduk sebagai hamba dan larangan keras sebagai larangan pertama pada lembaran-lembaran al-Qur’an setelah menggunakan argumentasi rasional bahwa tidak ada yang punya hak untuk diibadahai selain Allah. (Tafsir al-Qurthubi – Syaikh Imam al-Qurthubi)
- Murnikanlah ketaatan dan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala Yang Esa bukan kepada makhluk-Nya melakukan ketaatan. Dengan cara meninggalkan kesesatan, lalu perhatikanlah demonstrasi Allah besar-besaran di alam ini untuk tidak ada ruang sedikitpun manusia melantik sesembahan lain selain Allah. Dia-lah dzat yang tidak ada kesamaan dengan dzat yang lain, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia-lah yang punya hak untuk diibadahi. (Tafsir ath-Thabari – Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari)
- Ayat di atas berbicara tentang betapa pentingnya Tauhid dan betapa rusaknya perbuatan syirik. (Penulis)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















