1. Imam dalam keadaan berdiri (membaca surah al-Fatihah, ayat-ayat al-Qur’an), maka lakukanlah:
a. Langsung takbiratul ihram kemudian diam mendengarkan bacaan imam (jika shalat jahriyah), tidak perlu membaca iftitah, ta’awudz, dan basmalah termasuk surah yang tertinggal.
b. Untuk shalat sirriyah (zhuhur, ashar) maka orang yang masbuk memulai takbiratul ihram, doa iftitah, ta’awudz, dan al-Fatihah jika menyangka masih bisa membacanya sampai selesai, namun jika masbuk sulit mengetahuinya maka cukup membaca al-Fatihah.
c. Bila imam rukuk padahal al-Fatihah belum selesai, ikutilah imam!
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ
Imam dijadikan sebagai pemimpin untuk diikuti. (HR. Muslim)
فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا
Apabila dia rukuk, maka rukuklah kalian. (HR. Muslim)
2. Imam dalam keadaan rukuk
a. Jika imam rukuk maka rukuklah bersama imam dengan takbiratul ihram terlebih dahulu dan rakaat terhitung penuh jika mendapati waktu rukuk bersama imam walaupun sebentar dan tidak sempat membaca al-Fatihah.
b. Boleh takbir satu kali dengan niat takbiratul ihram sebelum rukuk (sebelum membungkuk) dan sudah mencukupi baginya takbir rukuk, namun jika bisa dua kali takbir itu lebih baik.
مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ الصَّلَاةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ
Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat berarti dia telah mendapatkan shalat. (HR. Al-Bukhari, Muslim)
زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ
Semoga Allah menambah semangat kepadamu, namun jangan diulang kembali. (HR. Al-Bukhari)
3. Imam dalam keadaan sujud/duduk
a. Langsung takbiratul ihram kemudian sujud atau duduk.
b. Jangan menunggu imam berdiri, namun idak dihitung rakaatnya.
CATATAN: Imam Ibnu Qudama berpendapat tidak perlu mengucapkan takbir untuk sujud karena memang tidak mendapati hal itu cukup langsung sujud. (Al-Mughni II/183)
إِذَا وَجَدْتُمْ الْإِمَامَ سَاجِدًا فَاسْجُدُوْا
Apabila kalian mendapati imam sedang sujud maka sujudlah (HR. Al-Baihaqi dari Abdullah bin Mughaffal. Al-Albani berkata, “Hadits ini sanadnya shahih, para perawinya terpercaya, termasuk perawi al-Bukhari dan Muslim.”)
4. Imam dalam keadaan duduk tasyahud
a. Hendaklah takbir kemudian langsung tasyahud.
b. Jika imam duduk tasyahud akhir ada dua pendapat:
• Langsung takbiratul ihram kemudian mengikuti imam, maka dihitung mendapati shalat berjamaah (berdasarkan dalil umum).
• Hendaknya menunggu kedatangan makmum lain agar bisa berjamaah secara sempurna. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 1589, Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 12173)
إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الصَّلَاةَ وَالْإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الْإِمَامُ
Jika seseorang diantara kalian pergi ke masjid untuk shalat berjama’ah lalu kalian mendapati imam sedang melakukan suatu gerakan dalam shalat, hendaknya ia langsung mengikuti gerakan imam. (HR. At-Tirmidzi dari Abu Dzar. Dishahihkan oleh Al-Albani)
فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
Apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah. (HR. Al-Bukhari, Muslim dari Abu Qatadah)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















