Qashar adalah rukhsah (keringanan). (Madzhab Jumhur [Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah])
Dengan dalil-dalil
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا (101)
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu men-qashar[343] sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. An-Nisa[4]: 101)
Catatan: Dalam ayat di atas ada kata “Junah (halangan)” berarti perkara yang dibolehkan bukan sesuatu yang wajib.
صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ
Mengqashar shalat adalah sedekah yang Allah berikan kepada kalian. Oleh karena itu, terimalah sedekah-Nya. (Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 3762)], Shahiih Muslim (I/478 no. 686), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/64 no. 1187), Sunan an-Nasa-i (III/116), Sunan Ibni Majah (I/339 no. 1065), dan Sunan at-Tirmidzi (IV/309 no. 5025) dari Umar bin Khaththab)
Catatan: Menurut hadits di atas qashar itu adalah sedekah berarti sedekah itu bukan perkara wajib
سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ صَلَّى بِنَا عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِمِنًى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَقِيلَ ذَلِكَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَاسْتَرْجَعَ ثُمَّ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَصَلَّيْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَصَلَّيْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ فَلَيْتَ حَظِّي مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَانِ مُتَقَبَّلَتَانِ
Aku mendengar ‘Abdurrahman bin Yazid berkata; ‘Usman bin ‘Affan radliallahu ‘anhu pernah shalat bersama kami di Mina sebanyak empat raka’at. Kemudian hal ini disampaikan kepada Ibnu Mas’ud radliallahu ‘anhu maka dia mengucapkan istirja’ (innaa lillahi wa innaa ilahi raji’un) kemudian berkata: “Sungguh aku selalu shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Mina sebanyak dua raka’at. Begitu juga aku shalat bersama Abu Bakat Ash-Shiddiq radliallahu ‘anhu di Mina sebanyak dua raka’at. Juga aku pernah shalat bersama ‘Umar bin Al Khaththob radliallahu ‘anhu di Mina sebanyak dua raka’at. Namun aku berharap shalat yang empat raka’at maupun dua raka’at keduanya diterima”. (HR. Bukhari, Muslim)
Catatan: Dalam hadits di atas, Ibnu Mas’ud membolehkan menyempurnakan shalat meskipun beiau selalu mengqashar (bukan perkara wajib).
سَاافَرْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ فِيْ رَمَضَانَ فَلَمْ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ وَلاَ الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ
Aku pernah bepergian bersama Rasulullah j di bulan Ramadhan, maka orang yang berpuasa tidak mencela yang tidak berpuasa dan orang yang tidak berpuasa tidak mencela orang yang berpuasa. (HR. Bukhari, Muslim dari Anas bin Malik)
Catatan: Dalam hadit diatas, bolehnya memilih berpuasa atau tidak yang menunjukkan bahwa mengqashar itu juga bukan sebuah kewajiban. Berarti metode yang dipakai oleh Jumhur adalah metode Qiyas antara kewajiban shalat dan puasa.
Dari Aisyah bahwa ia mengatakan, “Aku keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk mengerjakan Umrah pada bulan Ramadhan. Beliau berbuka sementara aku berpuasa. Beliau mengqashar sementara aku menyempurnakan shalat.” Aisyah berkata, “Ayah dan ibuku jadi tebusannya. Engkau berbuka sementara aku berpuasa, engkau mengqashar sementara aku menyempurnakan.” Nabi berkata, “Engkau telah berbuat kebajika, wahai Aisyah.” (HR. Ad-Daraquthni, Al-Baihaqi)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















