5. Apa yang dilakukan makmu yang sedang shalat sementara dikumandangkan iqamah
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَرْجِسَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ فَرَكَعَ الرَّكْعَتَيْنِ ثُمَّ دَخَلَ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ يَا فُلَانُ أَيُّهُمَا صَلَاتُكَ الَّتِي صَلَّيْتَ مَعَنَا أَوْ الَّتِي صَلَّيْتَ لِنَفْسِكَ
Dari Abdullah bin Sarjis dia berkata; “Seorang laki-laki datang, dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam saat itu sedang shalat Subuh. Lalu orang tersebut shalat dua rakaat. kemudian mengikuti shalat beliau. Setelah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam selesai shalat, beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ‘Wahai Fulan, yang manakah shalat subuhmu? Shalat bersama kami (shalat Subuh berjamaah) atau shalat untuk dirimu sendiri (shalat sunnah)? ‘ (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ahmad, Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh Al-Albani)
a. Ibnu Rajab: Dua pendapat
• Tetap sempurnakan shalatnya.
• Memutuskannya.
b. Sa’id bin Jubair (Tabi’in): Memutuskan.
c. Asy-Syafi’i (Satu riwayat): Memutuskan.
d. Ahmad (Stau riwayat): Memutuskan.
e. Al-Lajnah Ad-Daimah: Memutuskan jika khawatir tidak mendapat takbiratul ihram.
f. Ibnu Abdil Bar: Memutuskan, karena itulah sunnah.
g. Ibnu Sirin (Ulama Tabi’in): Apa yang tertinggal dari shalat wajib, lebih saya sukai dari pada sunnah pada iqamah.
h. Ibnu Taimiyah: Tidak boleh seseorang tersibukkan selain shalat wajib dengan selainnya yang lebih rendah nilainya.
i. Syaikh bin Baz: Jika seorang yang shalat melewati rukuk pada rakaat terakhir lanjutkan shalatnya.
6. Shalat sunnah boleh ditunda atau dibatalkan khususnya shubuh.
مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فَلْيُصَلِّهِمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ
“Barangsiapa belum melaksanakan dua rakaat fajar, hendaklah ia melaksanakannya setelah terbit matahari.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan selain mereka)






















